BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam pertumbuhan penduduk di Indonesia, pulau Jawa merupakan daerah yang terpadat dan tercepat jumlah penduduknya. Jumlah populasi masyarakat didaerah Jawa Timur di tahun 2000, laki-laki sebesar 17.193.270 jiwa dan perempuan sebesar 17.572.730 jiwa. total jumlah populasi laki dan perempuan sebesar 34.766.000 jiwa.  Dengan tingkat kepadatan sebesar 726 jiwa per km. Perbandingan jenis kelamin antara penduduk laki-laki per 100 dengan penduduk perempuan di tahun 2000 adalah 97.96. Ini berarti bahwa jumlah penduduk perempuan di Jawa Timur lebih banyak dari pada jumlah populasi penduduk laki-laki. Yang dimana setiap 100 penduduk perempuan terdapat 97 penduduk laki-laki. Laju Pertumbuhan Populasi didaerah Jawa Timur (Growth Rate of Population 1990-2000) sebesar 0.70. Dengan total angka kesuburan (Total Fertility Rate 1996-1999) sebesar 1.71. Tingkat Kematian Bayi di Jawa Timur sebesar 48 bayi per 1000 bayi yang di lahirkan/hidup (1996). Pengharapan hidup kelahiran laki-laki (Male Life Expectancy at Birth 1996) sebesar 63.05 dan pengharapan hidup kelahiran perempuan (Female Life Expectancy at Birth 1996) sebesar 66.89 (BPS, 2004). Jadi perlu adanya perhatian khusus untuk tenaga kerja wanita dalam pekerjaanya, karena porsinya yang lebih besar daripada tenaga kerja laki-laki.

Rendahnya produktivitas hampir di setiap sektor khususnya sektor industri, terutama produktivitas tenaga kerja sudah menjadi issue nasional. Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat produktivitas tenaga kerja di Indonesia mencapai indeks produktivitas dibawah 1 (Trocua, 1995 Dalam Rike, Sophia).

Dalam kaitannya dengan produktivitas maka dengan GDP dapat dihitung pula berapa Total Factor Productivity (TFP) dari sebuah negara. TFP menggambarkan sejauh mana Capital dan Labour dapat bersinergi sehingga menghasilkan output yang lebih besar. Bila melihat Negara yang telah maju seperti Jepang dan Singapura maka Capital dan Labour bukan lagi menjadi faktor utama dalam penyumbangan nilai terhadap GDP namun justru TFP yang menjadi faktor utamanya.

Berdasarkan data yang ada, Produktivitas (TFP) di Indonesia tahun 1995-1999 sebesar -255.49, Negara Malaysia sebesar 6, Negara Thailand sebesar -183.4, Negara Singapore sebesar -6, Negara Philippines sebesar 26, Negara Nepal sebesar 3. Sumber APO 2004.

Pada orde reformasi, saat ini pemerintah menyadari pentingnya peningkatan produktivitas karena produktivitas bukan berdimensi nasional tetapi juga internasional. Deklarasi Kuala Lumpur antara lain menyatakan bahwa produktivitas perlu ditingkatkan secara dinamis. Selama ini kegiatan pengukuran produktivitas di Indonesia masih belum banyak menarik minat para ahli. Hal tersebut menjadikan pengukuran produktivitas dari berbagai dimensi dan sektor berjalan lambat (Hidayat, 1986). Bagaimanapun lambatnya adalah penting mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas riil, sehingga diketahui tingkat keefisienan dan tingkat efektifitas yang dapat dipakai untuk mengukur tingkat pemanfaatan sumber-sumber yang dipergunakan dalam proses produksi.

Berbicara tentang pendapatan rumah tangga tentunya tidak terlepas dari kontribusi seluruh anggota rumah tangga baik laki-laki maupun perempuan. Anggota rumah tangga perempuan terdiri dari istri kepala rumah tangga, anak perempuan, menantu dan anggota rumah tangga perempuan lainnya. Saat ini banyak perempuan yang bekerja atau harus bekerja untuk memenuhi atau menambah pendapatan rumah tangga. Perempuan bekerja untuk menambah penghasilan tidak dapat terlepas dari situasi kemiskinan yang melanda suatu rumah tangga, akan tetapi perempuan bekerja tentunya bukan hanya karena faktor kemiskinan tetapi juga faktor kesempatan dan keahlian yang dimiliki oleh seorang perempuan.

Perempuan mempunyai potensi dalam memberikan kontribusi pendapatan rumah tangga khususnya rumah tangga miskin. Dalam rumah tangga miskin anggota rumah tangga perempuan terjun ke pasar kerja untuk menambah pendapatan rumah tangga yang dirasakan tidak cukup. Perempuan ternyata lebih mudah memasuki pasar kerja terutama sektor informal. Hasil penelitian Badrun (2004). Mengatakan bahwa dari 53,44 persen perempuan yang bekerja, 72,29 persen adalah pekerja tetap, artinya perempuan mempunyai kepastian dalam memperoleh pendapatan. Kontribusi perempuan pada peningkatan pendapatan rumah tangga miskin perbulan cukup signifikan yaitu sebesar 39,91 persen atau Rp. 272.357 dari total pendapatan rumah tangga sebesar Rp. 681.081. Perempuan juga mempunyai kemampuan untuk bekerja di sektor publik, selain lebih luwes dan lebih mampu menyesuaikan diri dalam menghadapi krisis ekonomi, misalnya, perempuan lebih banyak mengambil inisiatif untuk mengantikan peran suami yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam mencari nafkah.

Kontribusi perempuan di bidang ekonomi telah membantu mengangkat keluarga dari kondisi sangat miskin ke kondisi diambang garis tidak miskin. Apabila perempuan (dalam hal ini istri dan anak perempuan) tidak membantu ekonomi rumah tangga, dapat diduga bahwa kondisi ekonomi rumah tangganya akan lebih buruk. Menurut Dong Kyo Choi dan Dai Young Kim bahwa kontribusi perempuan dalam rumah tangga berpendapatan rendah adalah tinggi, dan sebaliknya kontribusi perempuan dalam rumah tangga berpendapatan tinggi adalah rendah.

Untuk meningkatkan eksistensinya di keluarga maupun di tingkat industri kecil, tingkat produktivitas pekerja wanita dituntut tinggi, karena dengan produktivitas yang tinggi maka akan menguntungkan pihak tenaga kerja wanita dan pihak industri kecil. Keuntungan jika produktivitas tenaga kerja wanita tinggi diukur dari industri kecil dan tenaga kerja wanita adalah sebagai berikut :

1. Bagi industri kecil :

a. Memperkuat daya saing industri kecil, karena dapat memproduksi dengan biaya yang lebih rendah dan mutu produksi lebih baik.

b. Menunjang Kelestarian dan perkembangan industri kecil.

c. Mendorong terciptanya perluasan lapangan kerja.

d. Menunjang terwujudnya hubungan indutrial yang lebih baik

2. Bagi Tenaga kerja Wanita :

a. Meningkatkan pendapatan dan jaminan sosial. Dapat menambah penghasilan keluarga dan masa depan yang lebih baik, dari pada tidak dapat menambah penghasilan apapun.

b. Meningkatkan harkat dan martabat serta pengakuan potensi individu. Sehingga laki-laki sebagai kepala rumah tangga dapat menghormati dan menghargai wanita ini.

c. Meningkatkan motivasi kerja dan keinginan berprestasi.

Berdasarkan data BPS Tahun 1992 terdapat sebanyak 34,34 juta pengusaha kecil di Indonesia. Usaha kecil tersebar diberbagai sektor, antara lain : disektor pertanian 21,3 juta (62 persen), disektor perdagangan 5,8 juta (16,9 persen), disektor industri pengolahan 2,5 juta (7,3 persen) dan disektor jasa serta keuangan 1,8 juta (5,3 persen), disektor angkutan darat/sungai/danau 1,2 juta (3,5 persen), disektor pertambangan/penggalian 0,87 juta (2,5 persen), disektor bangunan/konstruksi 0,87 juta (2,5 persen).

Sementara tenaga kerja wanita yang diserap oleh pengusaha industri kecil tersebut ada yang mempunyai pendidikan dan kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan tenaga kerja pria. Tetapi pada kenyataannya, masih banyak industri-industri kecil tersebut yang menempatkan tenaga kerja wanita belum sesuai dengan pendidikan dan kemampuan yang dimilikinya. Padahal jika tenaga kerja itu ditempatkan pada posisi yang sesuai dengan pendidikan dan kemampuan yang dimiliki, tentu akan termotivasi untuk bekerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitasnya.

Sasaran pembangunan industri kecil pada tahun 2000, yaitu tercapainya peningkatan pertumbuhan industri yang cukup tinggi, baik dalam nilai tambah, kesempatan kerja maupun ekspor, sehingga sektor industri makin efektif sebagai penggerak pembangunan ekonomi yang didukung oleh peningkatan kemampuan teknologi dan pemanfaatan sumber yang optimal, serta meningkatnya peran serta masyarakat secara produktif dan meluasnya persebaran lokasi industri kedaerah-daerah dalam pengembangan industri kecil dan menegah.

Pembangunan industri kecil di Kecamatan Bangil merupakan penjabaran kebijakan industri nasional dan kebijakan daerah yang dituangkan kedalam program pembangunan dan dilaksanakan sesuai visi dan misi pengembangan sektor industri yang disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerah. Peran pembangunan sektor industri daerah diarahkan agar terciptanya peningkatan unit usaha, penyerapan tenaga kerja, nilai produksi, dan perluasan pemasaran serta peningkatan pendapatan masyarakat. Pembinaan dan pengembangan sektor industri kecil di Kecamatan Bangil terus diupayakan dalam meningkatkan mutu hasil produksi, diversifikasi produk, dan desain, diversifikasi komoditi perdagangan dan pasar serta daya saing agar mampu dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja pada industri tersebut.

Industri kecil bordir di Kabupaten Pasuruan yang tersebar di beberapa wilayah desa dan kecamatan, seperti : Kecamatan Bangil, Beji, Rembang, Pandaan, Gondangwetan, Lumbang, serta Kecamatan Kejayan. Mampu memproduksi aneka busana muslim pria, wanita dan perlengkapannya, seperti : jilbab, kerudung, mukena, kopyah haji, bed cover, taplak meja, tempat tisu, dompet, sepatu wanita, tutup gelas, tutup saji, dsb. Hasil produksi mencapai 829.800 buah/tahun. Skala pemasaran meliputi Bangil, Surabaya, Malang, Sidoarjo, Solo, Jakarta hingga ekspor ke Belanda, Singapura, Malaysia, dan Brunei. Jumlah unit usaha yang ada mencapai 1.318 unit usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.890 orang.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti memandang sangat penting untuk dilakukan penelitian mengenai Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja Wanita Pada Industri Kecil di Kecamatan Bangil. Dan dengan diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas pekerja wanita maka ini bisa sebagai bahan masukan bagi industri kecil dalam rangka menyusun program kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya dan bisa bersaing di era globalisasi ini.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja wanita pada industri kecil bordir di Kecamatan Bangil.
  2. Variabel mana yang paling berpengaruh terhadap tingkat produktivitas tenaga kerja wanita.

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja wanita pada industri kecil bordir di Kecamatan Bangil
  2. Untuk menganalisis seberapa besar pengaruh masing-masing variabel terhadap produktivitas tenaga kerja wanita.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :

  1. Sebagai bahan masukan bagi industri kecil dalam rangka menyusun program kerja sehingga dapat meningkatkan produktivitasnya.
  2. Sebagai bahan informasi bagi para pemerhati masalah industri, sehingga dapat diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah referensi dan khasanah keilmuan.
  3. Sebagai acuan dan masukan bagi pihak/instansi terkait dalam menetapkan kebijaksanaan untuk menyusun program kerja, sehingga mampu menghasilkan tenaga kerja wanita yang berkualitas dan sukses dalam era globalisasi mendatang.
  4. Jika hasil ini benar dan akurat, dan diterapkan di industri kecil maka industri tersebut dapat berkembang dan mampu bersaing dengan industri menengah lainnya.

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: