BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Efisiensi Pasar adalah salah satu topik yang menarik dalam dunia pasar modal. Semenjak Fama (1970) mengemukakan hipotesis pasar efisien, banyak para peneliti di dunia yang mencoba membuktikan hipotesis tersebut. Fama mendefinisikan  Efficient Market sebagai suatu pasar dimana harga yang tercipta mencerminkan tersedianya informasi secara penuh. Fama membagi bentuk pasar efisien menjadi tiga kategori yakni Weak-Form, Semi-Strong, dan Strong-Form Efficiency.

Dalam pasar efisien, adanya informasi yang baru akan segera diantisipasi oleh para pelaku pasar dalam memutuskan keputusannya membeli atau menjual, sehingga menyebabkan perubahan terhadap harga, dan selanjutnya harga akan stabil kembali. Semakin cepat harga bereaksi terhadap informasi baru maka pasar akan semakin efisien.

Hipotesis pasar yang efisien atau Efficient Market Hypothesis sampai saat ini masih menjadi perdebatan yang menarik di bidang keuangan, masih ada pro dan kontra di kalangan praktisi dan akademisi bidang keuangan tentang hipotesis pasar yang efisien. Pasar yang efisien adalah pasar dimana harga semua sekuritas yang diperdagangkan telah mencerminkan semua informasi yang tersedia, baik informasi di masa lalu (misalnya laba perusahaan tahun lalu), informasi saat ini (misalnya rencana kenaikan deviden tahun ini) maupun informasi yang bersifat pendapat atau opini rasional yang beredar di pasar yang bisa mempengaruhi perubahan harga (Tandelilin,2001).

Dalam pasar modal yang efisien, investor tidak dapat menggunakan analisis-analisis teknikal untuk mendapat keuntungan. Seorang investor akan menghadapi kesulitan untuk menghasilkan suatu model ramalan berdasarkan hubungan waktu yang dulu dan waktu yang akan datang untuk tujuan memperoleh keuntungan yang lebih baik daripada di pasaran.

Namun demikian muncul berbagai perilaku ketidak teraturan akan penyimpangan-penyimpangan yang bisa dikenali di dalam pasar modal. Ketidak teraturan ini secara terus menerus hadir dan telah memberikan dampak yang cukup besar yang disebut sebagai market anomalies (anomali pasar). Dalam keadaan anomali pasar, hasil yang ditimbulkan akan berlawanan dengan hasil yang diharapkan pada posisi pasar modal yang efisien. Selain itu, perdebatan tentang pasar yang efisien masih terjadi sampai saat ini, di satu sisi banyak penelitian yang mengemukakan bukti empiris yang mendukung konsep pasar yang efisien, tapi di sisi lain muncul sejumlah penelitian yang mengemukakan adanya anomali pasar yang merupakan penyimpangan terhadap hipotesis pasar yang efisien. Anomali pasar tersebut antara lain January effect, size effect, low P/E ratio, firm anomaly dan day of the week pattern.

Penelitian pertama tentang anomali pasar dilakukan oleh Fama (1965), ia mengungkapkan bahwa varian Senin adalah sekitar 20% lebih tinggi dari return harian yang lain. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Cross (1973) dan French (1980) mengungkapkan bukti return rata-rata negatif untuk Senin dengan menggunakan Standart&Poor 500.

Gibbons and Hess (1981) menunjukkan bukti terdapat perbedaan yang jelas dari segi persentase perubahan yang dijalankan. Studi ini meliputi lebih dari 4000 hari perdagangan dari tahun 1962 hingga tahun 1978. Hasilnya ialah persentase pada hari Senin adalah negatif sedangkan pada hari yang lain perubahan adalah positif. Persentase perubahan harga bagi hari Rabu dan Jumat lebih besar dari hari Selasa dan Kamis. Studi ini meliputi lebih dari 4000 hari perdagangan dari tahun 1962 hingga tahun 1978. Hasilnya ialah persentase perubahan pada hari Senin adalah negatif sedangkan pada hari yang lain perubahan adalah positif..

Rozeff dan Kiney (1976) dalam Listyani Dyan Endah (2004:2) dijelaskan telah melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa tingkat keuntungan rata-rata saham pada bulan Januari adalah lebih tinggi dari bulan-bulan yang lain. Dalam jangka waktu 1904 hingga 1974, tingkat keuntungan rata-rata bulan Januari pada indeks harga saham adalah 3,48%. Tingkat keuntungan ini kemudian disahkan oleh Brown, Kleidon dan Marsh (1983) serta Kleim (1983). Untuk studi yang dilakukan oleh Gultekin dan Gultekin (1983) ditemukan bahwa kesan Januari bukan saja berlaku di Amerika Serikat tetapi juga di seluruh dunia. Ditemukan bahwa tingkat keuntungan rata-rata bagi bulan Januari adalah lebih tinggi dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.

Lakonishok dan Meberly (1996) dalam (Tatang Ary Gumanti dan Farid Ma’ruf,2004:23) melakukan studi terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi return saham harian New York Stock Exchange (NYSE). Dalam studi tersebut mereka menduga bahwa return saham di NYSE dipengaruhi oleh pola aktivitas perdagangan lainnya. Sehingga aktivitas transaksi perdagangan saham hari Senin lebih tinggi dibandingkan dengan hari lainnya. Tingginya aktivitas perdagangan saham hari Senin tersebut disebabkan oleh hasrat investor individual membeli saham. Akibatnya harga saham cenderung rendah pada perdagangan hari Senin dibandingkan dengan hari perdagangan lainnya.

Osborne (1962),Dimson dan Marsh (1986) dalam Listyani Dyan Endah (2004:3) mengemukakan alasan tingginya aktivitas perdagangan hari Senin disebabkan olah banyaknya waktu yang tersedia untuk mengkaji informasi dalam mempertimbangkan dan dalam pengambilan keputusan finansial pada akhir pekan. Aktivitas perdagangan pada hari Senin lebih banyak diwarnai aksi jual relatif dibandingkan dengan aksi beli, sehingga pada hari Senin tersebut harga saham relatif rendah.

Dubois dan Louvet (1996) dalam Listyani Dyan Endah (2004:3) melakukan penelitian terhadap efek hari perdagangan terhadap return. Dalam penelitian tersebut menggunakan 11 indeks saham dari 9 negara dengan menggunakan metode rata-rata bergerak (moving average methode), diperoleh bukti bahwa return saham cenderung lebih rendah pada awal hari perdagangan dalam satu minggu, tidak selalu pada hari Senin.

Penelitian day of the week effect di Bursa Efek Jakarta menunjukkan hasil yang bervariasi. Hasil penelitian Primawurti (2003) dan Suwarni (2002) menunjukkan pada return pasar IHSG tidak  ditemukan adanya day of the week effect tetapi pada return saham secara individual ditemukan adanya fenomena tersebut. Algifari (1998) dan Listyaningsih (2004) menemukan adanya day of the week effect, sementara Wong dan Yuanto (1999) berhasil mengidentifikasi adanya Tuesday effect dan weekend effect.

Sejumlah penjelasan telah dikembangkan untuk mengungkapkan teka-teki adanya return negatif yang persisten pada perdagangan hari Senin. Lakonishok dan Maberly (1990) menemukan bahwa investor institusional melakukan lebih sedikit transaksi pada hari Senin sementara investor individual melakukan lebih banyak transaksi dengan transaksi penjualan lebih dominan. Abraham dan Ikenberry (1994) melakukan penelitian lebih jauh. Mereka menemukan bahwa tekanan jual dari investor individual secara substansial lebih tinggi jika ada informasi yang tidak baik (bad news) pada hari Jumat sebelumnya, sebagai proksi untuk return Jumat yang negatif.

Penelitian yang lain oleh Wang, Li dan Erickson (1997) dalam Dwi Cahyaningdyah (2005:176), mengungkapkan bahwa Monday effect terjadi hanya pada hari Senin minggu keempat dan kelima, sedangkan return Senin minggu pertama sampai ketiga secara statistik tidak berbeda dengan nol. Penelitian mereka dilakukan terhadap berbagai indeks return saham (NYSE-AMEX, S&P composite index, Nasdaq) dengan periode penelitian 1962-1993.

Sun dan Tong (2002) dalam membuktikan lebih lanjut penelitian Wang, Li dan Erickson dengan menggunakan CRSP value weighted return dan equal weighted return series dan menemukan bahwa return Senin yang negatif terkonsentrasi pada minggu keempat setiap bulan yaitu antara tanggal 18-26, hal ini berkaitan dengan tuntutan likuiditas investor individu. Mereka menyebut fenomena ini sebagai week-four effect. Juga ditemukan bahwa negatif return yang terkonsentrasi antara tanggal 18-26 dapat dijelaskan secara statistik oleh negatif return yang terjadi pada Jumat sebelumnya.

Abraham dan Ikenberry (1994) dalam menemukan bahwa keseluruhan rata-rata return Senin adalah negatif, dan secara substansial merupakan konsekuensi dari informasi yang diumumkan pada sesi perdagangan sebelumnya. Tekanan penjualan dari investor individu pada hari senin secara substansial lebih tinggi jika didahului oleh hari Jumat yang memiliki return negatif (bad Friday). Jika return Jumat negatif, hampir 80% return Senin berikutnya adalah negatif, dan jika return Jumat positif maka lebih dari 50% return Senin berikutnya adalah positif. Hasil penelitian Abraham dan Ikenberry ini menunjukkan adanya korelasi antara Jumat dan Senin.

Rogalski (1984) dalam mengemukakan adanya hubungan yang menarik antara day of the week effect dengan January effect. Rata-rata return Senin dalam bulan Januari adalah positif, sementara return Senin di bulan lainnya adalah negatif. Ini menunjukkan fenomena Monday effect menghilang pada bulan Januari. Fenomena ini kemudian disebut Rogalski effect.

Beberapa penelitian yang dilakukan di BEJ menunjukkan bahwa January effect tidak relevan untuk BEJ. Hasil penelitian Wong dan Yuanto (1999), Puspitasari (2002) menunjukkan Januari effect tidak terjadi di BEJ. Diduga Monday effect menghilang pada bulan April berkaitan dengan earning management yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik yang menyampaikan laporan keuangan mereka pada bulan April.

Keadaan yang bertentangan dengan pergerakan harga secara random ini merupakan satu anomali yang tidak dapat diterangkan dalam pasar efisien bentuk lemah.

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penulis akan mengadakan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Hari Perdagangan Terhadap Return Saham : Pengujian Week-four Effect dan Rogalski effect di BEJ (Studi Pada Indeks Harga Saham Perusahaan Makanan dan Minuman Pada Periode 2004 sampai dengan 2005)”

1.2 Batasan Masalah

Agar pembahasan penelitian ini tidak melebar dan dapat memberikan pemahaman yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan maka pembatasan masalahnya adalah sebagai berikut :

  1. Penelitian ini akan menguji pengaruh hari perdagangan terhadap return saham dan fenomena-fenomena yang berkaitan khususnya fenomena Monday effect yang merupakan bagian dari day of the week pattern. Pengujian-pengujian yang dilakukan adalah pengujian week four effect yaitu menguji apakah Monday effect hanya digerakkan oleh adanya return Senin yang negatif pada minggu keempat dan kelima setiap bulannya. Dilakukan juga pengujian pengaruh return Jumat (bad Friday) terhadap Monday effect serta pengujian Rogalski effect.
  2. Data yang digunakan adalah indeks harga saham harian (closing price) Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di BEJ  untuk periode 2004 sampai dengan 2005.

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

  1. Apakah hari perdagangan mempunyai pengaruh terhadap return saham?
  2. Apakah Monday effect hanya terjadi pada hari Senin minggu keempat dan kelima (week-four effect)?
  3. Apakah Monday effect didahului oleh adanya return Jumat yang negatif (bad Friday)?
  4. Apakah Monday effect menghilang pada bulan April (Rogalski effect)?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: