BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Kondisi masyarakat saat ini yang semakin tinggi tingkat pendidikannya dan juga selera konsumsi mereka yang semakin meningkat, menciptakan suatu kesadaran dalam memilih produk yang bermutu menjadi lebih teliti dan cermat. Pelanggan membandingkan kondisi suatu produk dengan produk lain yang sejenis yang dihasilkan perusahaan lain untuk mendapatkan produk yang bermutu. Apabila mutu suatu produk yang diinginkan tidak terpenuhi maka mereka akan mengkonsumsi produk lain sesuai kebutuhan dan keinginan.

Sikap selektif dan kritis pelanggan dalam memilih produk bermutu sesuai kebutuhan dan keinginan mereka inilah yang menuntut perusahaan untuk senantiasa menghasilkan produk yang benar-benar bermutu tinggi. Namun, di sisi lain, perusahaan dihadapkan pada suatu persoalan tentang bagaimana upaya menjaga dan meningkatkan mutu produk yang mereka hasilkan namun tetap dengan biaya yang rendah dan seminimal mungkin. Perusahaan tentu tidak mengharapkan adanya inefisiensi atau pemborosan biaya hanya untuk mengejar mutu produk yang diinginkan, atau sebaliknya, mengejar biaya serendah mungkin dengan mengorbankan mutu produk.

Salah satu metode yang dipakai untuk meningkatkan mutu produk perusahaan adalah meningkatkan keakuratan sistem pelaporan biaya mutu (Griffith, 1986: 321). Sebuah perusahaan yang mampu mengukur biaya mutunya secara akurat, maka perusahaan tersebut akan meningkatkan efektivitas dalam hal quality improvement secara terus-menerus tanpa mengenal batas akhir. Hal ini karena perusahaan senantiasa melakukan perbaikan mutu sejalan dengan perkembangan bisnis perusahaan, yaitu mencakup pengembangan pasar, pengembangan produk, pengembangan sumber daya manusia, dan pengembangan peralatan dan teknologi yang digunakan dalam perusahaan.

Menurut Hansen dan Mowen (2000: 434-435), biaya mutu merupakan biaya-biaya yang terjadi karena rendahnya mutu suatu produk yang diterima oleh pelanggan. Atau dengan kata lain, biaya mutu merupakan biaya yang dikeluarkan atau terjadi untuk memenuhi kesesuaian antara spesifikasi produk dengan keinginan pelanggan. Lebih lanjut, Gryna (1988) menyatakan bahwa biaya mutu sebagian besar perusahaan mencapai kisaran antara 20 hingga 40 persen dari penjualan. Jumlah biaya mutu yang cukup besar ini telah mendorong banyak perusahaan untuk melakukan usaha-usaha yang dapat meningkatkan program mutunya sehingga produk cacat dapat diminimalkan. Atau dengan kata lain, perusahaan berupaya untuk meningkatkan produktivitasnya agar terjadi efisiensi dalam pengolahan input dan produk cacat dapat ditekan serendah mungkin.

Di sisi lain, penekanan pada mutu telah merangsang perusahaan untuk mendapatkan pengakuan eksternal mengenai mutu, yang disediakan oleh badan International Organization for Standardisation’s (ISO) berupa seri-seri standar manajemen mutu internasional ISO 9000 untuk jaminan mutu akan produk-produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan. Standar ini telah diadopsi oleh banyak negara di seluruh dunia, termasuk diantaranya Indonesia.

Melalui standard ISO, manajemen mutu mencakup pengendalian mutu dan jaminan mutu, dan memasukkan konsep-konsep tambahan mengenai kebijakan, perencanaan, dan pengembangan mutu.

Brooks (1995) dalam Carr dkk. (1997) mengidentifikasi keuntungan eksternal dan internal sertifikasi ISO. Manfaat eksternal berkaitan dengan persepsi pelanggan mengenai mutu, meningkatnya kepuasan pelanggan, keuntungan kompetitif perusahaan, dan mengurangi audit mutu pelanggan. Manfaat internal termasuk dokumentasi yang lebih baik, perhatian pada mutu yang lebih besar, dan peningkatan produktivitas dan efisiensi.

Oleh sebab itu, jika akreditasi ISO mengindikasi adanya peningkatan penekanan dalam hal mutu dan pengembangan mutu, maka sistem pelaporan kinerja perusahaan yang memperoleh akreditasi ISO (termasuk sistem pelaporan biaya mutu) tentu harus dapat merefleksikan adanya penekanan mutu tersebut. Sistem pelaporan biaya mutu yang lebih baik berarti juga pengendalian biaya mutu yang lebih baik. Hasilnya adalah biaya mutu yang optimal dan peningkatan produktivitas akan tercapai.

Bagaimanapun, masih sedikit penelitian yang dilakukan mengenai apakah perusahaan-perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi ISO telah terbukti lebih intens dalam hal mengendalikan biaya-biaya yang terkait dengan mutu, atau meningkatkan mutu dengan cara memodifikasi sistem pelaporan biaya mutu untuk meningkatkan mutu. Seperti yang dinyatakan oleh Dale (1994: 227), bahwa mutu harus diukur berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pelanggan, bukan oleh biaya mutu optimal. Hal ini mendorong perusahaan-perusahaan yang telah bersertifikasi ISO lebih menekankan perhatian pada upaya memenuhi persyaratan pelanggan dan cenderung kurang memperhatikan dan mengelola biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Berdasarkan penjabaran di atas, maka penulis tertarik untuk meneliti apakah perusahaan yang telah melakukan standardisasi sistem manajemen mutu dan memperoleh sertifikasi ISO 9001:2000 mampu menekan dan mengendalikan biaya mutu. Penulis juga ingin menjawab pertanyaan seberapa besar model sistem manajemen mutu ISO 9001 berpengaruh terhadap pengendalian biaya mutu dalam suatu studi kasus. Penelitian ini penulis beri judul:

ANALISIS PENGARUH PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9001:2000 TERHADAP PENGENDALIAN BIAYA MUTU (STUDI KASUS PADA PT. PURA BARUTAMA UNIT PAPER MILL 5-6 -9, KUDUS)

1.2 Pokok Permasalahan dan Pembatasan Masalah

1.2.1 Pokok Permasalahan

Dari uraian di atas dapat diidentifikasikan masalah penelitian, yaitu:

  1. Bagaimana gambaran perkembangan biaya mutu perusahaan setelah menerapkan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000?
  2. Apakah Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 menghasilkan pengendalian biaya mutu yang lebih baik atau justru lebih buruk dibandingkan saat sistem tersebut belum diterapkan?

1.2.2 Pembatasan Masalah

Untuk menghindari meluasnya bidang permasalahan, penulis memberikan batasan-batasan sebagai berikut:

  1. Kajian penerapan biaya mutu di PT. Pura Barutama Unit Paper Mill 5-6-9 akan dibandingkan dengan periode saat sebelum perusahaan belum mengkonversi atau menerapkan standard ISO 9001:2000 dan setelah perusahaan menerapkan standard ISO 9001:2000. Analisis pelaporan biaya mutu akan dilakukan melalui dua macam pelaporan: Laporan Biaya Mutu Trend Satu Tahun dan Laporan Biaya Mutu Trend Periode Ganda, kemudian trend biaya mutu kedua periode tersebut akan dibandingkan untuk melihat pengaruh penerapan ISO 9001:2000
  2. Pembahasan ditekankan pada pengendalian biaya mutu melalui program peningkatan mutu yang telah dilakukan perusahaan sesuai standard ISO 9001:2000 pada seluruh aktivitas yang berkaitan dengan aktivitas produksi. Pengelompokan biaya mutu dilakukan berdasarkan data-data akuntansi perusahaan.

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: