BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Anak-anak  dengan  gangguan  pendengaran  merupakan  fenomena  yang tidak dapat dihindari. Mereka juga perlu mendapatkan perhatian khusus seperti anak-anak yang normal lainnya. Bisa belajar, bisa bermain dengan teman yang normal. Biasanya anak dengan gangguan pendengaran sulit beradaptasi. Mereka cenderung  bermain  sendiri  dari  pada  bermain  bersama  karena  akan  sulit kerjasama,  mereka  menggunakan  bahasa  isyarat  dan  cenderung  digunakan dengan teman yang mempunyai gangguan pendengaran juga.

Di Propinsi Jawa Tengah sekarang ini kurang lebih ada 134 yayasan / lembaga yang telah menyelenggarakan SLB/SDLB dan tersebar di 27 daerah tingkat II.

Tabel 1.1 Rekapitulasi Sekolah dan Siswa Menurut Jenjang Pendidikan

Dinas P dan K Provinsi Jawa Tengah Tahun 2005/2006

No

Jenjang

Sekolah

Sekolah berijin

Jml siswa

Sekolah blm berijin

Jml

Siswa

Total

Sekolah

Total

Siswa

1

TKLB

71

857

2

6

73

863

2

SDLB 119 5.810

3

36

122 5.846

3

SMPLB

87

1.166

1

15

88

1.181

4

SMALB

52

483

0

0

52

483
Jml 329 8.316

6

57

335 8.373

Menurut perkiraan di seluruh Indonesia ada 2 juta anak berkelainan tetapi baru 8000 yang mendapat pelayanan. Departemen P dan K Provinsi Jawa tengah telah membina sekolah-sekolah luar biasa.

  1. Bagian A ( Tuna Netra ) sebanyak 23 sekolah.
  2. Bagian B ( Tuna Rungu, Tuna Wicara ) sebanyak 55 sekolah
  3. Bagian C ( Tuna Mental Lambat Belajar ) sebanyak 35 sekolah.
  4. Bagian D ( Tuna Laras / anak nakal ) sebanyak 10 sekolah.

Pendidikan gangguan pendengaran sendiri sangat banyak diselenggarakan, hal ini merupakan bukti masih banyaknya anak-anak yang perlu diperhatikan dalam hal pendidikan sebagaimana anak-anak normal yang lainnya. Keterbatasan yang dialami anak-anak ini tidak mengurangi hak-hak mereka untuk memperoleh pendidikan sebagaimana teman mereka yang normal. Tentang sistem Pendidikan Nasional yang terdapat pada pasal:

  1. Pasal  5  ayat  2  :  Warga  negara  yang  memiliki  kelainan  fisik,  emosional, mental, intelektual dan sosial berhak memperoleh pendidikan khusus.
  2. Pasal  11  ayat  1  :  Pemerintah  dan  pemerintah  daerah  wajib  memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.
  3. Pasal 12 ayat 1 butir b : Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya.
  4. Pasal 32 ayat 1 : Pendidikan Khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
  5. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 001/U/1986 tentang Sekolah Dasar Luar Biasa.
  6. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0126/U/1994 tentang Kurikulum Pendidikan Luar Biasa.
  7. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 002/U/1986 tentang Pendidikan Terpadu bagi Anak Cacat. (UU RI No 20 Tahun 2003)

Pendidikan jasmani atau pendidikan gerak merupakan salah satu bidang pendidikan yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana bagi setiap anak didik mengembangkan potensi diri baik fisik maupun mental (Dimyati 2000 : 45)

Pendidikan kesegaran jasmani merupakan bagian terpadu dari proses pendidikan secara keseluruhan yang menuju kepada keserasian antara segi-segi jasmani, mental, emosional dan sosial melalui aktivitas jasmani yang terpilih dengan maksud untuk merealisasikan hasil-hasil pendidikan tersebut. Sebagian besar warga masyarakat di Indonesia belum memberikan perhatian yang layak terhadap eksistensi pendidikan jasmani dan kedudukan serta perannya dalam pendidikan  secara  keseluruhan.        Demikian  pula  halnya,  belum  banyak  yang menyadari bahwa pendidikan jasmani dan olahraga dapat menjadi sarana efektif atau terapi bagi peningkatan rasa percaya diri anak-anak, termasuk anak-anak yang  mengalami  gangguan  pendengaran.  SLB  Don  Bosco  di  kabupaten Wonosobo  merupakan  sekolah  luar  biasa  bagian  B  yang  berlokasi  di  jalan Sambek 33 Wonosobo dan berasrama.  Pada tahun 1936 para suster Putri Maria dan Yosep telah membuka sekolah Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu Dena Upakara di jln. Mangli – Wonosobo.  Pada awalnya mereka mengajar baik putra maupun putri.  Baru berjalan selama 2 tahun, usaha mulia itu terganggu perang dunia II dengan segala akibatnya.  Setelah situasi kembali kondusif, para suster kembali membuka pintu sekolah dan tentunya mengulang ajakan untuk bekerjasama, agar para Bruder Karitas mau mendirikan sekolah untuk anak tunarungu, karena sangat dibutuhkan tenaga untuk putra.  Permohonan itu terjadi realita pada tahun 1955. (sejarah LPTAR )

Pada tahun 1953 Kongregasi Bruder Karitas mengambil keputusan untuk membuka lembaga anak tuli bagian putra di Wonosobo yang berada tidak jauh dari Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu (LPATR) Dena Upakara, yang sekarang khusus mendidik untuk anak-anak tunarungu bagian putri.  Sarana dan prasarana untuk lembaga ini mulai dipersiapkan baik di Wonosobo maupun di negeri Belanda.  Pada tanggal 08 Desember 1955 rombongan para Bruder Karitas yang berasal dari purworejo mendampingi para bruder pionir membuka lembaga ini untuk memulai berkarya.    Setelah semua disiapkan pada tanggal 8 januari

1956,tiga puluh enam putera pindah dari Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu (LPATR) Dena Upakara ke Lembaga Pendidikan Anak Tuna Rungu (LPATR) Don Bosco.  Satu hari kemudian senin, 9 januari 1956 pintu-pintu sekolah dibuka untuk  pertama  kali  dan  kegiatan  belajar  mengajar  dimulai.  SLB  Don  Bosco sendiri  menerima  murid  pada  usia  5  –  6  tahun.      Dengan  tujuan  menjadi pendidikan kaum tuna rungu di wilayah kabupaten Wonosobo. Seiring dengan perkembangannya,sekolah ini juga mampu menunjukkan prestasi dalam bidang keolahragaan, dan yang paling menonjol adalah prestasi dalam Kejuaraan Bola Basket.  SLB B di Wonosobo ini telah beberapa kali meraih juara.  Dapat dilihat sebagian prestasi SLB B dalam Tabel-Tabel di bawah ini bahwa Bola Basket yang paling banyak meraih juara.

Tabel 1.2 Data Prestasi Siswa SLB Don Bosco

No

Juara

Cabang

Thn

Tingkat

Dalam Rangka

Pendidikan Regional

1

1

Basket 1985 Umum Kabupaten HUT GKI

2

2

Basket 1985 Kabupaten HUT GKI

3

1

Seni lukis

1985

Umum

Kabupaten

Hari Anak

Nasional

4

1

Voli

1990

SMP

Kabupaten HUT Rep.Indo

5

3

Basket 1994 Umum Kabupaten HUT GKI

6

2

Basket 1995 Pelajar Kabupaten HUT Rep.Indo

7

1

Basket

1995

SMA

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

8

1

Basket

1996

SMP

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

9

1

Basket 1996

SMA

Kabupaten HUT SMA Kristen

10

1

Basket 3 on

3

1997

Umum

Kabupaten

HUT SMA Kristen

11

1

Basket

1997

SMA

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

12

3

Basket

1997

SMA

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

13

1

Basket

1997

SMP

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

14

3

Basket

1998

SMP

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

15

1

100 m 1998 Kabupaten Porseni Pelajar

16

1

Lompat

tinggi

1998

Kabupaten

Porseni Pelajar

17

3

Lompat jauh 1998 Kabupaten Porseni Pelajar
18

1

Basket

1998

SMA

Kabupaten

Invitasi Bola

Basket

19

3

Basket

1998

SMA

Kabupaten

Invitasi Bola

Basket

20

3

Voli

1998 Kabupaten HUT PGRI

21

1

Basket

1998

Umum

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

22

1

Basket

1999

Kabupaten

Piala Dan Dim

0707

23

1

Basket 2000 Kabupaten Piala Dep Dik Bud
24

1

Basket 2001 Kabupaten Piala Bupati
25

2

100 m 2003 Pelajar Nasional POPCANAS
26

2

Estafet 2003 Pelajar Nasional POPCANAS
27

1

100 m 2004

SMA

Kabupaten POPDA KAB.
28

1

200 m 2004

SMA

Kabupaten POPDA KAB.
39

1

400 m 2004

SMA

Kabupaten POPDA KAB.
30

1

Lompat jauh 2004 Umum Nasional POPCANAS

31

3

Pentas Seni

2004

Umum

Propinsi

Pentas Seni

PENCA

32

1

Mengarang 2005 SMPLB Karesidenan Porseni PLB
33

2

Melukis 2005 SDLB Karesidenan Porseni PLB
34

2

Melukis 2005 SDLB Propinsi Porseni PLB
35

1

Lari 100 m 2005 Bawah 17 th Nasional POPCANAS
36

1

Lari 200 m 2005 Bawah 17 th Nasional POPCANAS

Dewasa ini, kejuaraan multi event paralympic yaitu kejuaraan berbagai cabang  olahraga  khusus  bagi  para  penyandang  ketunaan,  mulai  mendapat perhatian   dunia   luas   termasuk   Indonesia. Namun   demikian   khususnya, pembinaan prestasi bagi para penyandang ketunaan belum cukup mendapat perhatian, dan pembinaan prestasi sejak usia dini juga hanya dikonsentrasikan untuk mereka yang normal.  Oleh sebab itu muncul minat untuk mulai menelusuri bagaimana sebenarnya potensi anak-anak penyandang ketunaan ini, khususnya ketunaan pendengaran, untuk dibina menjadi atllet-atlet yang handal dan mampu bersaing  dalam event  nasional  maupun  internasional.   Untuk  mengawali  niat tersebut yang ingin terlebih dahulu diketahui adalah :  Hubungan antara tingkat keterbelajaran gerak dan keterampilan menggiring bola basket siswa SD kelas atas dengan gangguan pendengaran di SLB B bagian putra “Yayasan Karya Bakti’’ Don  Bosco Kabupaten  Wonosobo.

I.2  Permasalahan

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut dapat dikemukakan    suatu rumusan masalah penelitian sebagai berikut :

1.2.1   Apakah  ada hubungan antara  tingkat keterbelajaran gerak  dan keterampilan  menggiring bola basket siswa  SD  kelas  atas  dengan gangguan  pendengaran  di  SLB  B  bagian  putra  “Yayasan  Karya Bakti’’Don  Bosco Kabupaten  Wonosobo?

1.2.2   Berapa besar hubungan antara tingkat  keterbelajaran gerak dan keterampilan  menggiring  bola  basket  siswa  SD  kelas  atas  dengan gangguan  pendengaran  di  SLB  B  bagian  putra  “Yayasan  Karya Bakti’’Don  Bosco Kabupaten  Wonosobo?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: