BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya sudah berlangsung sejak manusia  itu  ada.  Salah  satu  kegiatan  manusia  dalam  usaha  memenuhi kebutuhan tersebut   adalah  memerlukan adanya pasar sebagai   sarana pendukungnya. Pasar merupakan kegiatan ekonomi yang termasuk salah satu perwujudan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Hal ini didasari atau didorong oleh faktor perkembangan ekonomi yang pada awalnya hanya bersumber pada problem untuk memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan pokok). Manusia  sebagai  makhluk  sosial  dalam perkembangannya  juga  menghadapi kebutuhan sosial untuk mencapai kepuasan atas kekuasaan, kekayaan dan martabat.

Pasar adalah tempat dimana terjadi interaksi antara penjual dan pembeli (Chourmain, 1994 : 231). Pasar merupakan pusat dan ciri pokok dari jalinan tukar-menukar yang menyatukan seluruh kehidupan ekonomi (Belshaw, 1981:98). Pasar di dalamnya terdapat tiga unsur, yaitu: penjual, pembeli dan barang atau jasa yang keberadaannya tidak dapat dipisahkan. Pertemuan antara penjual dan pembeli menimbulkan transaksi jual-beli, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang yang masuk  ke pasar akan membeli barang, ada yang datang ke pasar hanya sekedar main saja atau ingin berjumpa dengan seseorang guna mendapatkan informasi tentang sesuatu (Majid, 1988: 308).

Pembahasan mengenai pasar tidak bisa dipisahkan dari pola yang terjadi di Jawa pada umumnya. Kelompok-kelompok orang Jawa yang dominan berdagang di pasar adalah pedagang ikan kering (ikan asin) dari Semarang, pengrajin perhiasan emas dari Kota Gede, pedagang batik dari Solo dan pedagang tembakau dari Magelang dan Madura (Hefner, 2000 : 285).

Pasar secara harfiah berarti tempat berkumpul antara penjual dan pembeli untuk tukar menukar barang, atau jual beli barang. Pasar dalam konsep urban Jawa  adalah  kejadian  yang  berulang  secara  ritmik  dimana  transaksi  sendiri bukan merupakan hal yang utama, melainkan interaksi sosial dan ekonomi yang dianggap lebih utama (Saraswati, 2000 : 141).

Pada  masyarakat  Jawa  dikenal  konsep panatur  desa.  Konsep  panatur desa ini dikaitkan dengan sistem klasifikasi hari-hari pasar yang lima atau pancawara1, yaitu Manis/Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Satu rotasi yang lamanya lima hari pada masyarakat Jawa sekarang disebut sepasar (Nastiti, 2003 : 54-55).

Pasar desa hanya terselenggara pada hari tertentu menurut konsep panatur desa yang kemudian dikenal dengan konsep macapat, yaitu satu desa dikelilingi oleh empat desa yang terletak di arah empat penjuru mata angin. Ikatan macapat desa-desa di Jawa menjadi struktur, desa penyelenggara akan menjadi puser (pusat) terhadap empat desa lainnya (Saraswati, 2000: 141). Menurut Nastiti (2003:54)  konsep  macapat  merupakan  tanda  rasa  kerukunan  sebuah  desa dengan keempat desa tetangga yang letaknya kira-kira di arah keempat mata

1  Pancawara adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yamg terdiri dari lima hari, dalam budaya Jawa dan Bali. Pancawara juga disebut sebagai hari pasaran dalam bahasa Jawa. Dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali terdapat 2 macam siklus waktu yaitu mingguan dan pasaran.

angin. Rasa kerukunan antar desa-desa kemudian meluas lebih jauh letaknya. Konsep macapat tidak hanya sekedar tanda kerukunan saja, akan tetapi berhubungan juga dengan masalah-masalah yang terdapat di daerah pemukiman yang bersifat agraris. Misalnya masalah-masalah yang berhubungan dengan pengairan sawah, keamanan dan sebagainya yang perlu diatasi dengan membentuk  semacam  kumpulan  diantara  desa-desa  yang  bertetangga.  Jadi pasar tradisional atau dikenal dengan nama pasar desa di Jawa hanya terselenggara  sehari  secara  bergiliran  begitu  pula  dengan  Pasar  Tradisional Wage Wadaslintang yang terselenggara pada hari pasaran Wage dan dikelilingi desa-desa lainnya di kecamatan Wadaslintang.

Pasar merupakan pranata penting dalam kegiatan ekonomi dan kehidupan masyarakat. Pasar sudah dikenal sejak masa Jawa Kuno yaitu sebagai tempat berlangsungnya transaksi jual beli atau tukar menukar barang yang telah teratur dan terorganisasi. Hal ini berarti pada masa Jawa Kuno telah ada pasar sebagai suatu sistem (Nastiti, 2003:13).

Pasar sebagai sistem maksudnya adalah pasar yang mempunyai suatu kesatuan dari komponen-komponen yang mempunyai fungsi untuk mendukung fungsi secara keseluruhan, atau dapat pula diartikan pasar yang telah memperlihatkan aspek-aspek perdagangan yang erat kaitannya dengan kegiatan jual-beli, misalnya adanya lokasi atau tempat, adanya ketentuan pajak bagi para pedagang, adanya pelbagai macam jenis komoditi yang diperdagangkan, adanya proses produksi, distribusi, transaksi dan adanya suatu jaringan transportasi serta adanya alat tukar.

Menurut Nastiti dalam Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-IX Masehi dikatakan bahwa (2003 : 60) :

“Timbulnya pasar tidak lepas dari kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Kelebihan produksi setelah kebutuhan sendiri terpenuhi memerlukan tempat pengaliran untuk dijual. Selain itu pemenuhan kebutuhan akan barang-barang, memerlukan tempat yang praktis untuk mendapatkan barang-barang baik dengan menukar atau membeli. Adanya kebutuhan-kebutuhan  inilah yang mendorong munculnya tempat berdagang yang disebut pasar”.

Alasan inilah yang melatar belakangi manusia membutuhkan “pasar” sebagai tempat untuk memperoleh barang atau jasa yang diperlukan tetapi tidak mungkin dihasilkan sendiri. Keberadaan pasar dapat dianggap sebagai pusat perekonomian.

Pengertian tradisional menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah bersifat  turun  temurun.  Jadi  dapat disimpulkan  bahwa  Pasar tradisional berkaitan  dengan  suatu  tradisi2.  Kata  tradisi  dalam  percakapan  sehari-hari sering  dikaitkan  dengan  pengertian  kuno  atau  sesuatu  yang  bersifat  luhur sebagai warisan nenek moyang. Tradisi pada intinya menunjukkan bahwa hidupnya suatu masyarakat senantiasa didukung oleh tradisi, namun tradisi itu bukanlah statis. Arti paling dasar dari kata tradisi yang berasal dari kata tradium adalah sesuatu yang diberikan atau diteruskan dari masa lalu ke masa kini (Sedyawati, 1992 : 181).

Berbicara mengenai tradisi pada dasarnya tidak lepas dari pengertian kebudayaan,  karena  tradisi  sebenarnya  merupakan  bagian  isi  kebudayaan. Karakter suatu kebudayaan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan alam. 2  Tradisi   adalah segala sesuatu (seperti adat, kepercayaan, kebiasaan, ajaran,dsb) yang turun temurun dari nenek moyang dan masih dijalankan di masyarakat (Poerwadarminta. 2002 :959) Hal ini dapat dimengerti mengingat kebudayan pada dasarnya merupakan hasil budi manusia dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan hidupnya dari tantangan alam (Subroto, 1985 : 7).

Manusia dalam kehidupannya tidak terlepas dari kebudayaannya, dimana kebudayaan yang dipunyai oleh manusia merupakan jembatan antara hubungan kegiatan manusia dengan lingkungannya. Kebudayaan merupakan alat kontrol bagi kelakuan dan tindakan manusia. Pengertian  kebudayaan  yang  lebih  detail  menurut  Parsudi  Suparlan adalah keseluruhan pengetahuan yang dipunyai oleh manusia sebagai makhluk sosial yang isinya adalah perangkat model-model pengetahuan yang secara selektif  dapat digunakan untuk memahami dan menginterprestasikan lingkungan yang dihadapi dan untuk mendorong serta menciptakan tindakan yang diperlukan (Widiyanto,1997 : 47).

Menurut Koentjaraningrat (2002: 5)  kebudayaan mempunyai tiga wujud: pertama, kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya. Kedua, kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud kebudayaan yang ketiga adalah sebagai benda-benda hasil karya manusia. Jadi dengan adanya pasar maka akan terjadi perubahan nilai, gagasan, norma, kepercayaan dan aktivitas berpola dari manusia dalam masyarakat.

Pasar memiliki multi peran, yaitu tidak hanya berperan sebagai tempat bertemunya  antara  penjual  dan  pembeli  tetapi  pasar  juga  memiliki  fungsi sebagai  tempat  bertemunya  budaya  yang  dibawa  oleh  setiap  mereka  yang memanfaatkan pasar. Interaksi tersebut tanpa mereka sadari telah terjadi pengaruh mempengaruhi budaya masing-masing individu (Depdikbud, 1993 :4).

Pasar tradisional memegang peranan yang amat penting pada masa ini, terutama pada masyarakat pedesaan.  Pasar, pada masyarakat pedesaan dapat diartikan sebagai pintu gerbang yang menghubungkan masyarakat tersebut dengan  dunia  luar.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  pasar  mempunyai  peranan dalam perubahan-perubahan kebudayaan yang berlangsung di dalam suatu masyarakat. Melalui pasar ditawarkan alternatif-alternatif kebudayaan yang berlainan dari kebudayaan setempat (Sugiarto, 1986 : 2).

Pasar desa di Jawa atau peken 3(Bahasa Jawa halus/ bahasa Jawa krama), biasanya letaknya tidak jauh. Jarak dari rumah seorang petani ke pasar, yang letaknya biasanya di tepi jalan besar, hanya kira-kira tiga sampai lima kilometer saja (Koentjaraningrat, 1984 : 186-187).

Pasar desa biasanya tumbuh di persimpangan jalan atau di tempat-tempat yang strategis di dalam desa dan seringkali juga mengambil nama dari tempat atau daerah di mana pasar tersebut berada, misalnya Pasar Tradisional Wage Wadaslintang yang nota bene berada di Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo. Pasar tradisional selain sebagai sarana jual-beli juga merupakan tempat bertemunya warga masyarakat dari berbagai kalangan. Pasar tradisional juga mempunyai peranan dalam kegiatan sosial. Perannya sebagai tempat melakukan aktivitas sosial, pasar tradisional terlihat

sebagai tempat interaksi, komunikasi dan informasi serta tempat keramain dan 3  Menurut Wiryomartono peken adalah kata lain dari pasar, yang kata kerjanya mapeken, artinya berkumpul. Berkumpul dalam arti saling bertemu muka dan berjual beli pada hari pasaran (Saraswati, 2000 : 140. Dalam Paramita. No. 2) hiburan. Pasar dengan kata lain juga mempunyai peranan dalam kegiatan sosial selain berperan sebagai tempat berniaga.

Pasar selain mempunyai peranan dalam aktivitas ekonomi ternyata juga mempunyai peranan dalam aktivitas sosial. Pernyataan ini dipertegas dalam buku Peranan Pasar pada Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat disebutkan bahwa (Depdikbud,1990 :2) :

“Pasar pada prinsipnya adalah tempat dimana para penjual dan pembeli bertemu. Tetapi apabila pasar telah terselenggara dalam arti para pembeli dan penjual sudah bertemu serta barang-barang kebutuhan sudah disebarluaskan, maka pasar memperlihatkan peranannya bukan hanya sebagai pusat kegiatan ekonomi tetapi juga sebagai pusat kebudayaan”

Pasar Tradisional Wage Wadaslintang adalah salah satu pasar tradisional yang masih bertahan di Kelurahan Wadaslintang, Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo walaupun berada didaerah yang terpencil namun keberadaannya masih tetap bertahan ditengah-tengah masyarakat yang terus berkembang. Pasar merupakan salah satu penyebab adanya pergeseran nilai- nilai tradisional yang semula masih dipertahankan. Kehadiran pasar setidak- tidaknya telah merubah pola ekonomi tradisional kepada ekonomi komersial. Salah  satu  ciri  untuk  dapat  melihat  setiap  usaha  yang  dilakukan  oleh masyarakat telah berorientasi kepada untung dan rugi atau diukur dengan uang (Depdikbud, 1993 :201).

Dari uraian di atas, peneliti terdorong untuk mengkaji Pasar Tradisional Wage Wadaslintang. Oleh karena itu peneliti mengambil judul “Keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang sebagai Pusat Kegiatan Ekonomi, Sosial dan  Budaya  Masyarakat  Wadaslintang,  Kabupaten  Wonosobo  Tahun  1998-2005”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana sejarah Pasar Tradisional Wage Wadaslintang di Kelurahan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo?
  2. Bagaimana  kondisi  kehidupan  ekonomi,  sosial  dan  budaya  masyarakat Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo tahun 1998-2005?
  3. Bagaimana pengaruh keberadaan Pasar Tradisional Wage Wadaslintang terhadap kegiatan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo tahun 1998-2005?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: