BAB I

PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG

Seiring  dengan  kemajuan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi  (  IPTEK) terutama dalam bidang otomotif yang semakin pesat dan semakin besar telah mendorong perkembangan industri otomotif khususnya mobil. Usaha untuk penguasaan teknologi terus dikembangkan hal ini telah memicu pemerintah untuk terus mengembangkan dan memproduksi kendaraan khususnya mobil.

Mengingat peranan kendaraan yang cukup banyak dalam kehidupan, maka demi kelancaran proses kerja mobil tersebut harus dilakukan pemeliharaan, perawatan, dan perbaikan. Telah kita ketahui mesin terdiri dari komponen logam yang  bergerak  satu  sama  lain,  diantaranya  ada  beberapa  yang  berhubungan langsung antara satu dengan yang lainnya.Salah satu   Contohnya adalah system pengapian. tanpa adanya system pengapian mobil tidak mungkin berjalan.

Saat mesin mulai hidup busi tidak henti-hentinya memercikan bunga api. Setiap  dua  kali  putaran  mesin  busi  menyala  satu  kali,  bayangkan  jika  mesin bekerja selama beberapa jam berapa banyak percikan busi yang dihasilkan. Maka dari itu system pengapian pada mesin harus dibuat secara kompak dan tahan lama.

Pada motor bensin campuran bahan bakar dan udara yang di kompresikan didalam silinder harus dibakar untuk menghasilkan tenaga. Jadi sistim pengapian berfungsi untuk membakar campuran udara dan bensin didalam ruang bakar pada akhir   langkah   kompresi.   Sistim   pengapian   yang   digunakan   adalah  sistim pengapian listrik, dimana untuk menghasilkan  percikan api digunakan tegangan listrik sebagai pemercik api. Sebagian mobil telah dikembangkan  sistem-sistem pengapian IIA, pada proyek akhir ini telah mengkaji sistem pengapian IIA.

Pentingnya sistim pengapian IIA yang sekarang digunakan dalam permobilan di Indonesia, dikarenakan sistim pengapian IIA memiliki keunggulan dimana percikan arus listrik yang sangat kuat untuk menhasilkan tegangan tinggi. Keunggulan lainnya pada putaran tinggi pengapianya stabil tidak naik turun. Pengapian sistim IIA tidak menggunakan platina karena sistim pengapian dengan platina pada putaran tinngi pengapiannya  kurang maksimal,  hal ini disebabkan karena besarnya arus listrik yang mengalir pada platina terbatas dan terjadinya loncatan bunga api pada platina. Platina sebagai switch/pemutus arus dan bekerja secara mekanis.

Untuk   mengatasi hal tersebut, akhir-akhir   ini   banyak kendaraan menggunakan  sistim  pengapian  IIA.  Sistim  pengapian  elekronik  bekerja  tanpa sistim  mekanis,  sehingga mampu mengatasi   gangguan-gangguan yang ditimbulkan  oleh platina. Sebagai pengganti  platina untuk menghubungkan  dan memutus arus listrik pada ignition coil digunakan dalam rangkaian transistor yang mengambil alih tugas platina. Signal rotor berupa rotor yang terpasang pada poros distributor dan berputar sesuai denan putaran poros, rotor memiliki 4 buah kaki sesuai dengan jumlah silinder mesin, rotor berfungsi sebagai penghantar medan magnet permanen ke bracket pick up coil.

Dalam  sistem  IIA  ini  harga  saat  pengapian  optimum disimpan  dalam engine   control   computer   untuk   setiap kondisi  mesin. Sistem ini   bekerja mendeteksi kondisi mesin ( putaran mesin,aliran udara masuk, temperatur mesin dan  lain-lain)  berdasarkan  signal  dari  setiap  engine  sensor.  Dengan  sistim  ini dapat diwujudkan  pengaturan  yang lebih teliti berdasarkan  kondisi kerja mesin dan ini tidak dapat di peroleh pada system non IIA yang hanya dapat mengatur putaran mesin dan manipold vacuum  dengan  menggunakan  governor  advancer yang terdapat dalam distributor.

Distributor  adalah suatu alat mekanik  yang berfungsi  sebagai  jembatan yang menyesuaikan antara kerja sistem pengapian dan putaran mesin, pada distributor terdapat kontak platina yang menyambungkan  dan memutuskan  arus listrik pada lilitan kawat primer didalam koil pengapian , juga pada disributor ini dilengkapi   dengan  rotor  yang  membagikan   atau  mengatur   pembagian   arus tegangan tinggi pada busi sesuai dengan pengapian mesin tersebut. Dalam sistem IIA ini harga saat pengapian optimum disimpan dalam engine control computer untuk setiap kondisi mesin. Sistem ini bekerja mendeteksi kondisi mesin ( putaran mesin,aliran udara masuk, temperatur mesin dan lain-lain) berdasarkan signal dari setiap  engine  sensor.  Selanjutnya  menentukan  saat  pengapian  yang  optimum sesuai dengan kondisi mesin dengan mengirim signal pemutusan arus primer ke igniter yang mengontrol saat pengapian.

B.  PERMASALAHAN

Untuk mengkaji sistem pengapian IIA, penulis membuat sebuah media sistem pengapian IIA. Adapun yang akan di ungkap sebagai berikut :

  1. Komponen-komponen apa sajakah yang terdapat dalam system pengapian IIA?
  2. Bagaimana cara kerja system pengapian IIA?
  3. Bagaimana cara mengatasi gangguan pada system pengapian IIA?

Skripsi Daftar Pustaka


Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: