BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah

Sejak berlakunya kurikulum pendidikan pada tahun 1994, pendidikan di Indonesia mengalami perkembangan. Pada kurikulum tahun 1994 atau lebih dikenal Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), peserta didik dituntut aktif dalam pembelajaran. Guru berperan memberikan informasi untuk menunjang belajar peserta didik. Pada kurikulum ini, peran guru sangat berpengaruh dan pembelajaran  berorientasi  pada  disiplin  ilmu. Artinya  pendidikan  bertujuan memberikan ilmu secara teori kepada peserta didik. Pada tahun 2004, berlaku Kurikulum  Berbasis Kompetensi  (KBK).  KBK ini berlaku pada pendidikan dasar (SD dan SMP) maupun pendidikan menengah (SMA dan SMK). Pada KBK, pendidikan yang sebelumnya berorientasi pada disiplin   ilmu, dikembangkan menjadi pendidikan yang berorientasi kompetensi. Artinya, pendidikan bertujuan agar peserta didik dapat memenuhi kompetensi tertentu pada  suatu  mata  pelajaran.  Pendidikan  pada  KBK  ini  mempunyai  ciri-ciri antara lain:

  1. berusaha  mengembangkan  kemampuan  pendekatan  sistem,  tidak  hanya transformasi informasi;
  2. menggunakan  sistem  Penilaian  Acuan  Patokan  (PAP)  bukan  Penilaian Acuan Norma (PAN);
  3. penyajian dilaksanakan dengan menerapkan belajar tuntas;
  4. memberi tekanan pada penguasaan secara individual.

Kondisi  ini  berlaku  juga  untuk  kurikulum  sekolah  dasar,  khususnya  mata pelajaran matematika. Sesuai dengan perkembangan kurikulum matematika di sekolah dasar, pembelajaran matematika  pun harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Pembelajaran matematika tidak sekadar menyampaikan informasi (definisi, rumus,   teorema, dan sebagainya),   tetapi peserta didik juga terlibat, mengetahui, dan dapat menemukan informasi tersebut. Penilaian pada pembelajaran  matematika  juga  tidak  hanya  penilaian  terhadap  hasil  akhir belajar tetapi proses yang dilalui peserta didik sampai menemukan hasil akhir tersebut. Oleh karena itu, peran guru tidak sekadar menyampaikan informasi. Mereka diharapkan dapat memfasilitasi belajar para peserta didik.

Matematika  mempunyai  peranan  sangat  penting  dalam  kehidupan, baik bagi pelajar, pegawai kantor, maupun masyarakat umum. Matematika digunakan  untuk  memenuhi  kebutuhan  praktis  dan  memecahkan  masalah dalam kehidupan sehari-hari. Para pelajar dapat berhitung,  dapat menghitung isi dan berat, dapat menggunakan  kalkulator dan komputer, dengan bantuan matematika. Masyarakat pun dapat menggunakan matematika, misalnya dapat membuat catatan dengan angka-angka, dapat membaca persentase, dapat berdagang dan berbelanja. Sebagian orang kadang berpikir bahwa matematika hanya menyangkut perhitungan yang rumit, perhitungan angka-angka yang membuat kepala pusing. Padahal berbagai aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang mereka alami sering menggunakan  matematika,  meskipun kadang tidak mereka sadari.

Di kelas V SD Patemon 01, pembelajaran matematika selama ini dilakukan dengan komunikasi verbal. Guru menyampaikan  materi pelajaran, memberi kesempatan bertanya kepada peserta didik, dan sesekali diberi tugas rumah. Kondisi pembelajaran seperti   ini belum sepenuhnya dapat memfasilitasi  peserta  didik  dalam  mencapai  kompetensi  yang  diharapkan, juga belum dapat melibatkan mereka dalam proses pembelajaran secara aktif. Sudah sepatutnya guru dapat memfasilitasi belajar peserta didik, misalnya melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan media. Penggunaan media merupakan salah satu alternatif agar peserta didik dapat terlibat aktif dalam pembelajaran. Ketersediaan media pembelajaran sendiri sangat terbatas, baik jenis  maupun  kuantitasnya.  Media  yang  sudah  tersedia  berupa  alat  peraga untuk operasi hitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian) bilangan  bulat,  operasi  hitung  pecahan,  bangun  datar,  dan  bangun  ruang. Dengan demikian, pemanfaatan media khususnya alat peraga masih terbatas pada beberapa materi dan cenderung dilakukan secara klasikal.

Hasil belajar peserta didik pada materi pecahan masih kurang. Hal ini ditunjukkan dengan nilai rata-rata kelas hanya mencapai 61,7 dan ketuntasan belajar kelas 50%. Materi pecahan  termasuk  materi yang sulit bagi peserta didik,   sehingga   diduga hasil belajarnya   masih   kurang.  Sebagai solusi alternatif,   dilaksanakan   pendampingan   dalam   pembelajaran   matematika dengan  memanfaatkan  alat  peraga  melalui  penelitian  tindakan  kelas  untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.

B.  Permasalahan

Permasalahan dalam penelitian ini adalah “apakah melalui pendampingan dalam pembelajaran matematika dengan memanfaatkan alat peraga dan media berbantuan komputer, hasil belajar peserta didik dapat ditingkatkan?”

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: