Skripsi MIPA on 06 Oct 2011 06:19 pm
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK KELAS VIII.E SEMESTER 1 SMP 1 JATI KUDUS DALAM POKOK BAHASAN TEOREMA PYTHAGORAS MELALUI IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TYPE STAD TAHUN PELAJARAN 2006/2007
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Memasuki era globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi dan informasi menjadikan mata pelajaran matematika sangat penting sekali. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi (matematika) pada SMP/MTs/SMPLB dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi dasar ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri (Depdikbud, 2006:12). Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Standar kompetensi dan kompetensi dasar matematika dalam dokumen ini disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut di atas. Selain itu dimaksudkan pula untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan berbagai cara penyelesaian. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya. Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual, peserta didik secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
Depdikbud (2006:14) menjelaskan bahwa mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut :
- Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
- Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
- Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
- Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
- Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SMP/MTs meliputi aspek-aspek bilangan, aljabar, geometri dan pengukuran, serta statistika dan peluang. Standar kompetensi mata pelajaran matematika pokok bahasan geometri dan pengukuran menggunakan Teorema Pythagoras dalam pemecahan masalah, sedangkan kompetensi dasar untuk kelas VIII yaitu menggunakan Teorema Pythagoras untuk menentukan panjang sisi-sisi segitiga siku-siku, dan memecahkan masalah pada bangun datar yang berkaitan dengan Teorema Pythagoras
Pembelajaran di sekolah untuk keperluan penyampaian obyek-obyek matematika yang abstrak kepada peserta didik, diperlukan suatu sistem penyampaian obyek matematika. Oleh karena itu dalam pengajaran matematika dapat dilakukan berbagai upaya untuk merancang, memilih, dan melakukan berbagai pendekatan atau metode mengajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Komunikasi matematika perlu menjadi fokus perhatian yang utama dalam pembelajaran matematika, sebab melalui komunikasi peserta didik dapat mengkoordinasi dan mengkonsolidasi berpikir matematisnya (NCTM, 2000a). Karena metematika mempunyai potensi yang sangat baik dalam memacu terjadinya pengembangan ilmu maupun dalam
mempersiapkan warga masyarakat yang mampu mengantisipasi perkembangan zaman
Berbagai usaha untuk mengadakan perbaikan pengajaran matematika telah banyak dilakukan namun hasil belajar matematika yang dicapai peserta didik masih rendah. Rendahnya prestasi belajar matematika tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Dalam pembelajaran matematika memerlukan kondisi terpenuhinya buku teks dan laboratorium yang signifIkan, relevan, dan mutakhir; serta guru sebagai model inkuiri yang kreatif, produktif, dan inovatif.
Realita menunjukkan bahwa setiap evaluasi belajar pada pokok bahasan Teorema Pythagoras selalu saja ada peserta didik yang mendapatkan nilai di bawah 5 sekisar 30% dari keseluruhan peserta didik, data informasi ini diperoleh penulis dari guru mata pelajaran matematika kelas VIII SMP 1 Jati Kudus semester 1 tahun pelajaran 2006/2007, oleh karena itu perlu adanya variasi dalam model pembelajaran di kelas.
Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan tujuan kurikulum dan potensi peserta didik merupakan kemampuan dan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru (Kosasih, 1992:83). Upaya meningkatkan hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran matematika telah banyak dilakukan seperti adanya sosialisasi kurikulum, pengadaan buku paket, menerapkan strategi dari model pembelajaran, pemberian motivasi, penambahan jam pelajaran dan sebagainya.
Salah satu model pembelajaran matematika dengan pokok bahasan
Teorema Pythagoras yaitu menggunakan model Cooperative Learning Type
Student Team Achievement Divisions (STAD), hal ini dipandang tepat karena peserta didik dapat melakukan kerjasama dalam pembelajaran yang berprinsip Contextual Teaching and Learning (CTL), sehingga peserta didik dalam belajar dapat menemukan sesuatu sendiri (inquiry), bertanya dengtan temannya (questioning), melakukan sesuatu sesuai dengan konstruksi (constructivism), melakukan masyarakat belajar (learning community), melakukan pengumpulan data (authentic assessment), merefleksikan kemampuannya (reflection), dan melakukan pemodelan (modelling).
Pada model Cooperative Learning guru bukan lagi berperan sebagai satu-satunya nara sumber dalam pembelajaran, melainkan berperan sebagai mediator, stabilisator dan manajer pembelajaran. Iklim belajar yang berlangsung dalam suasana keterbukaan dan demokratis akan memberikan kesempatan yang optimal bagi peserta didik untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai materi yang diajarkan dan sekaligus melatih sikap dan keterampilan sosialnya sebagai bekal dalam kehidupannya di masyarakat, sehingga perolehan dan hasil belajar akan semakin meningkat. Di dalam Cooperative Learning, suasana pembelajaran berlangsung secara terbuka dan demokratis antara guru dengan peserta didik dan peserta didik dengan peserta didik sehingga lebih memungkinkan pengembangan nilai, sikap, moral dan keterampilan peserta didik. Disamping itu, iklim belajar mengajar yang berkembang akan merangsang dan meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar terutama bagi peserta didik di sekolah dasar.
Upaya guru dalam membentuk kelompok merupakan bentuk kegiatan yang dianggap tepat untuk membantu meningkatkan aktivitas belajar peserta
didik. Dengan aktivitas peserta didik dalam Cooperative Learning diharapkan peserta didik mampu dan menyadari bahwa dirinya mempunyai potensi yang bisa dikembangkan melalui Cooperative Learning. Karena melalui aktivitas belajar tersebut peserta didik dituntut untuk berperan aktif dan disiplin yang tinggi, dan dalam aktivitas Cooperative Learning diharapkan dapat tercipta situasi dan kondisi belajar yang dinamis untuk mendorong peserta didik berprestasi. Sehingga di dalam aktivitas Cooperative Learning peserta didik akan menemukan bentuk-bentuk atau teori-teori belajar baru yang dianggap cocok dan pas untuk dikembangkan sesuai dengan potensinya sendiri.
Berpijak pada paparan di atas, maka diharapkan dengan menggunakan model Cooperative Learning Type STAD dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan Teorema Pythagoras pada peserta didik kelas VIII.E SMP 1 Jati Kudus semester 1 tahun pelajaran 2006/2007 dapat meningkat secara signifikan.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dapat dikemukakan sebagai berikut: “Apakah dapat ditingkatkan hasil belajar dalam pembelajaran matematika pada pokok bahasan Teorema Pythagoras peserta didik kelas VIll.E semester I SMP 1 Jati Kudus tahun pelajaran 2006/2007 melalui implementasi model Cooperative Learning Type STAD” ?
![]() |
|
Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.
Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509
atau bisa telepon langsung.
Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!
