BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2004 (BPS, Sekernas 2004) jumlah penduduk indonesia sebanyak 214 juta orang dengan perincian umur 15-19  tahun  sekitar  4,573  juta  orang  dan  yang  berumur  diatas  20  tahun  sekitar 10,201 juta orang. Dari sejumlah berusia 15 tahun ke atas yaitu 10,201 juta orang tersebut yang termasuk angkatan kerja sekitar 20,48 juta orang  dengan perincian laki-laki 9,165 juta. Sedangkan angkatan kerja perempuan  5,609 juta orang.

Dari jumlah angkatan kerja yang meningkat tersebut maka timbul berbagai   masalah   diantaranya   adalah   tuna   wisma   dan   tuna   karya   karena kurangnya lapangan kerja bagi angkatan kerja yang ada. Dari permasalahan yang ada  tersebut  muncul  berbagai  macam  alternatif  diantaranya  adalah  menjadi tenaga  kerja  keluar  negeri.  Program  ini  semakin  diminati  oleh  kaum  wanita seiring dengan adanya krisis ekonomi yang terjadi di negara kita.

Menjadi tenaga kerja keluar negari merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan  bagi sebagian besar wanita baik yang belum berkeluarga  maupun yang sudah berkeluarga. Sebagian dari mereka berasal dari keluarga yang kurang mampu yang ingin mengubah nasib keluarganya. Keinginan memutus rantai kemiskinan secara pintas untuk meningkatkan taraf kehidupan rumah tangga membuat para wanita semakin tertarik menjadi tenaga kerja keluar negeri. Hal ini dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja Indonesia yang berhasil dipekerjakan  ke luar negari disektor informal yaitu berjumlah 9,56 juta orang.

Di sisi lain seperti lazimnya proses kehidupan yang bisa berada pada dataran hitam putih, maka tenaga kerja wanita yang bekerja ke luar negeri tidak luput dari persoalan tersebut. Diantara mereka ada yang untung ada pula yang kurang   beruntung.   Ada   yang  majikannya   baik   sebaliknya   ada   yang  suka menyiksa. Ada majikan yang suka memberikan hadiah sebaliknya tidak sedikit yang kikir dan enggan membayar gaji mereka.

Gaji besar tapi resiko juga besar, itulah sebenarnya yang dialami oleh tenaga kerja wanita. Hanya saja pengertian jenis ini tidak mungkin di baca dari sudut ekonomi. Sebab dalam konsep dan dalil ilmu ekonomi tidak pernah dikenal istilah penyiksaan, penghinaan, dan pemerkosaan.

Beban kerja yang luar biasa umumnya dialami oleh para tenaga kerja wanita. Repotnya lagi irama kerja sungguh sangat mungkin menimbulkan strees, misalnya  saja pekerjaan  yang harus dikerjakan  tenaga  kerja yang ada di Arab Saudi,  antara  lain  mereka  harus  membersihkan  permadani  dengan  sikat  yang lembut,  sapu  dan  penyedot  debu  dilarang  digunakan  dan  biasanya  permadani yang menghiasi rumah–rumah yang ada di Saudi sangat lebar, sehingga membutuhkan  waktu  yang lama  untuk  membersihkannya.  Belum  lagi pakaian sutera yang harus di cuci menggunakan tangan dan menggunakan sabun khusus, mencucinyapun  harus lemah lembut sedang sabun yang digunakan  sangat luar biasa, dapat membuat tangan terkelupas dan berdarah. Belum lagi jam kerja di Saudi karena pola hidup orang sana berbeda dengan pola kehidupan di Indonesia.

Umumnya pembantu disana harus bangun jam 03.00 pagi padahal mereka baru tidur sekitar pukul 01.00 dini hari. Dan masih banyak lagi masalah–masalah yang dialami oleh tenaga kerja indonesia di luar negeri. Pengiriman tenaga kerja wanita keluar negari di sisi lain merupakan altenatif pemecahan masalah kesempatan kerja yang kurang di Indonesia di sisi lain  juga  menimbulkan  masalah  baru.  Permasalahan  ini  merupakan  pekerjaan baru yang harus dipecahkan  oleh pemerintah.  Diantaranya  adalah pembenahan sitem pengiriman  dan pemberian  bekal ketrampilan  yang harus diperoleh  oleh para tenaga kerja wanita sebelum diberangkatkan ke luar negari.

Persoalan  pertumbuhan  penduduk  merupakan  faktor  yang  penting dalam rangka pencapaian kesejahteraan rakyat. Kebijaksanaan pemerintah dalam rangka  pelaksanaan sangat dipengaruhi oleh persoalan pertambahan penduduksehingga   masalah  tersebut  berkaitan  dengan  pegelolaan  kebutuhan dasar   rakyat   yaiu,   kebutuhan   akan   sandang,   pangan,   dan   permukiman. Berdasarkan jumlah penduduk adalah adanya angkatan kerja yang meingkat dan mengharuskan bertambahnya kesempatan kerja yang luas. Jadi pembangunan kita dikatakan berhasil apabila pembangunan  mampu menaikkan  taraf hidup rakyat serta mampu menciptakan lapangan kerja produktif.

Undang-undang Republik Indonesia No 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan PerlindunganTenaga Kerja Indonesia Di Luar Negeri Bab I Ketentuan Umum, pasal 1 (1) dan (2), antara lain :

  1. Penempatan  TKI adalah kegiatan  pelayanan  untuk mempertemukan  TKI sesuai  bakat,  minat  dan  kemampuannya  dengan  pemberi  kerja  di  luar negeri yang meliputi seluruh proses perekrutan, pengurusan dokumen, pendidikan dan pelatihan, penampungan, persiapan pemberangkatan, pemberangkatan  sampai  ke  negara  tujuan,  dan  pemulangan  dari  negara tujuan.
  2. Pengguna  jasa  TKI  yang  selanjutnya  disebut  dengan  pengguna  adalah Instansi Pemerintah, Badan Hukum Pemerintah, Badan Hukun Swasta, dan atau Perseroan di negara tujuan yang mempekerjakan TKI.

Penempatan tenaga kerja Indonesia keluar negeri dilaksanakan melalui proses penyediaan,  penyiapan  kualitas,  pemberian  perlindungan  dan pelayanan sejak dari daerah asal, pada saat penempatan sampai dengan kedatangan dari luar negari  sampai   dengan   kepulangan   ke  daerah   asal  tenaga   kerja  indonesia. Penyediaan tenaga kerja dilaksanakan melalui kegiatan penuluhan, pengumuman, pendaftaran  dan  seleksi  administrasi  berdasarkan  permintaan  nyata  dari  mitra usaha dan pengguna jasa.

Hak setiap orang untuk memperoleh kesempatan kerja atau lapangan kerja telah dijamin dalam UUD 1945 Pasal 27 Ayat (2) yang menyatakan bahwa tiap – tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.  Hal  ini  menunjukkan  bahwa  gerakan  emansipasi  di  negara  kita telah berhasil dalam perjuangannya, sehingga perempuan dapat bekerja apa saja dan mempunyai hak yang sama dengan kaum laki–laki.

Sebagian besar calon tenaga kerja wanita yang berada di Balai Latihan Kerja Luar Negeri adalah para remaja dan ibu rumah tangga yang setiap harinya hanya sibuk dangan pekerjaan rumah tangga antara lain mencuci, memasak, menjaga anak–anak dan lain-lain. Pada akhirnya pekerjaan tersebut semakin lama seakin membosankan sehingga mereka semakin lama semakin kurang pergaulan. Meskipun  pekerjaan  rumah  merupakan  kewajiban  seorang  istr dalam  kegiatan rumah tangga namun mereka juga membutuhkan pengalaman dan rekreasi.

Setelah     pekerjaan    rumah     tangga     selesai     dikerjakan    mereka menganggur dan menunggu suami mereka pulang. Pekerjaan para suami mereka sebagian  besar  adalah  petani,  buruh  dan  karyawan  biasa  dari  penghasilan pemberian para suami mereka dapat bertahan hidup meskipun tidak cukup untuk memenuhi  kebutuhan  sehari–hari.  Selain  ibu rumah  tangga  calon tenaga  kerja wanita  yang  ada  di  Balai  Latihan  Kerja  Luar  Negeri  adalah  remaja  puteri umumnya mereka adalah lulusan SMP ataupun SMA. Aktivitas mereka sebelum menjadi calon tenaga kerja wanita hanya menonton tv, bermain, tidur siang. Motivasi mereka bekerja keluar negeri antara lain untuk melanjutkan sekolah atau kuliah setelah mengumpulkan  penghasilan yang diterima, ingin menbuka usaha baru   atau   berwiraswasta,   membangun   dan   memperbaiki   rumah   dan   lain sebagainya.

Sesuai dengan kenyataan yang ada bahwa calon tenaga kerja wanita keluar negari  dilandasi  motivasi  yang tinggi  untuk  meningkatkan  ketrampilan, biaya, sekolah, modal, usaha, meningkatkan kesejahteraan keluarga dan memperbaiki  masa  depan  agar  lebih  baik.  Karena  motivasi  yang  tinggi  akan sanggup menghasilkan prestasi kerja yang optimal dan dapat mencegah hal–hal yang timbul selama bekerja keluar negari serta mendapatkan  sesuai hasil yang diharapkan.

Sebelum calon tenaga kerja wanita diberangkatkan  ke negara tujuan mereka diberi ketrampilan  yang cukup agar menjadi  tenaga kerja wanita yang profesional.  Selain pemberian  ketrampilan  yang bibutuhkan calon tenaga kerja wanita tersebut juga dibekali dengan bahasa yang sesuai dengan bahasa negara tujuan.  Pemberian  bekal  ketrampilan  dan  bahasa  asing  dilakukan  selama  para calon tenaga kerja indonesia berada di Balai Latihan Kerja Luar Negeri sebelum mereka   diberangkatkan   ke  negara   tujuan   sambil   menunggu   keberangkatan mereka. Cepat lambatnya pemberangkatan  mereka ke negara tujuan didasarkan pada panggilan kerja dari luar negeri atau permintaan dari negara tujuan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

  1. Faktor pendorong dan faktor penghambat calon tenaga kerja Indonesia ke luar negeri.
  2. Bagaimana model pelatihan calon tenaga kerja Indonesia yang dilakukan oleh Balai Latihan Kerja Luar Negeri meliputi : tujuan pelatihan, materi pelatihan, metode pelatihan, media pelatihan, dan evaluasi pelatihan

Skripsi Daftar Pustaka


Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: