BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Kesenian merupakan ekspresi  jiwa manusia dalam memenuhi kebutuhan estetisnya. Dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia senantiasa membutuhkan kesenian sebagai kebutuhan dalam hal keindahan. Kesenian dapat tumbuh, hidup dan berkembang karena masyarakat pendukungnya. Apabila  masyarakat  pendukungnya  selalu  aktif  dan  menerima  kesenian tertentu dapat dipastikan kesenian tersebut hadir pada setiap kesempatan. Dengan kenyataan tersebut maka seniman sebagai pelaku kegiatan seni dan masyarakat  selaku  penikmat  kesenian  akan  selalu  terjadi  hubungan  yang saling menguntungkan. Keuntungan yang dimaksud bukan semata-mata keuntungan  lahiriah,  tetapi  lebih  menekankan  pada  keuntungan  batiniah berupa kepuasan akan kebutuhan estetis yang dinikmati dari pertunjukan kesenian.

Salah satu jenis  kesenian  tradisional yang masih    hidup   dan berkembang  adalah  kesenian  Tayub.  Dalam  kelompok  seni  pertunjukan, Tayub digolongkan sebagai kesenian tradisional kerakyatan. Tayub sebagai kesenian tradisional merupakan warisan nenek moyang yang hidup secara turun-temurun. Kesenian Tayub hidup dan berkembang di daerah-daerah yang masyarakatnya berkehidupan sebagai petani. Ciri yang menonjol pada seni Tayub terlihat dari masyarakat pendukungnya, yaitu tampak sederhana. Di samping  itu  Tayub  mudah  dicerna  dan  dipahami  serta  diwarnai  dengan keakraban, spontanitas bahkan humor yang segar.

Kesenian tradisional tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat yang kemudian diturunkan atau diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Karena kesenian tradisional lahir di lingkungan kelompok suatu daerah, dengan sendirinya kesenian tradisional memiliki gaya dan corak yang mencerminkan pribadi masyarakat daerahnya. Jenis tarian yang hidup dan berkembang di kalangan rakyat, biasanya mempunyai bentuk yang serba sederhana pada elemen pertunjukannya. Kesederhanaan yang dimaksud terdapat pada segi gerak, tata rias wajah, tata busana, iringan dan tempat pertunjukan (Indriyanto, 2001: 59).

Di samping itu wujud kesenian tradisional juga berkaitan dengan peristiwa  kedaerahan.  Dengan  kata  lain  hidup  dan  didukung  masyarakat daerah secara turun-temurun, sehingga dianggap masyarakat milik rakyat daerah. Kesenian tradisional kerakyatan sangat dirasakan oleh masyarakat pendukungnya sebagai milik sendiri, karena merupakan salah satu bentuk seni yang berakar dan bersumber pada masyarakat setempat. Kesenian tradisional merupakan kekayaan budaya yang tidak ternilai harganya. Di samping itu kesenian  tradisional  juga  memiliki  nilai  strategis  baik  pada  aspek  politik, sosial, ekonomi, maupun budaya (Kuntowijoyo, 1987: 131).

Daerah yang terkenal dan tetap eksis kesenian Tayub, antara lain : Blora, Sragen dan Grobogan. Ketiga daerah ini masing-masing memiliki ciri khas sendiri-sendiri. maka tak asing di telinga kita ada istilah Tayub Blora, Tayub Sragenan dan Tayub Grobogan. Walaupun ketiga daerah ini memiliki ciri khas sendiri-sendiri, namun secara kontekstual dan konseptual hampir sama yaitu bentuk pertunjukan tari tradisional kerakyatan yang melambangkan kesuburan.

Dalam budaya masyarakat agraris, kesuburan tanah merupakan satu- satunya harapan yang selalu didambakan oleh para petani. Dalam benak petani tradisional sampai sekarang masih terbesit sisa-sisa kebiasaan masa lampau yang dianggap sulit untuk ditinggalkan. Sadar atau tidak sadar mereka beranggapan  bahwa  kesuburan  tanah  juga  perkawinan,  yang  tidak  cukup hanya dicapai lewat peningkatan sistem penanaman baru, tetapi juga perlu peningkatan lewat kekuatan-kekuatan yang tidak kasat mata. Kekuatan itu antara lain berupa magi simpatesis, yang hanya bisa didapatkan dengan pembuahan, yaitu hubungan antara pria dan wanita. Hubungan ini, pada masyarakat yang masih melestarikan budaya purba kadang-kadang dilakukan agak realistis. Sedangkan bagi masyarakat yang sudah maju dilakukan secara simbolis. Magi simpatetis yang mampu mempengaruhi pembuahan atau kesuburan dapat dilakukan lewat tari dan drama tari (Soedarsono, 1991: 35).

Khususnya di daerah Grobogan, kesenian Tayub masih digemari sebagian besar masyarakat desa yang sehari-harinya hidup sebagai petani. Seperti halnya masyarakat Desa Tunggak, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.  Ketertarikan  masyarakat  Desa  Tunggak  terhadap  pertunjukan Tayub terlihat  dari  seringnya pertunjukan    Tayub   diadakan.   Biasanya pertunjukan Tayub disajikan dalam acara hajatan pernikahan atau khitanan.

Kehadiran Tayub  dalam acara hajatan pernikahan dimaksudkan   agar mempelai dapat mendapatkan keturunan, disamping sebagai hiburan. Berdasarkan    pengamatan    peneliti    awal    kesenian    Tayub    bagi masyarakat Desa Tunggak dianggap sebagai kesenian pokok yang ada hampir di setiap acara hajatan. Alasannya kesenian Tayub dianggap paling menghibur dibanding kesenian yang lain, seperti: Campursari dan Solo organ.

Dengan adanya antusias masyarakat yang tinggi terhadap kesenian Tayub membuat masyarakat Desa Tunggak yang mempunyai hajat merelakan waktu, tenaga dan biaya yang cukup mahal untuk menghadirkan atau mengadakan pertunjukan Tayub. Jika dibandingkan dengan pertunjukan lain misalnya Campursari, pertunjukan Tayub tergolong mahal.

Berdasarkan keterangan dari salah satu warga yang pernah menanggap tersebut, dalam  pertunjukan dengan durasi waktu   yang    sama    untuk Campursari cukup mengeluarkan dua sampai tiga juta, sedangkan pertunjukan Tayub harus mengeluarkan biaya minimal lima juta. Kenyataan yang ada walaupun pertunjukan Tayub lebih mahal,  namun   tidak  menjadikan penghalang bagi   masyarakat  yang memiliki hajat untuk   mengadakan pertunjukan Tayub.

Pertunjukan Tayub merupakan salah satu bentuk kesenian rakyat yang dipertahankan oleh masyarakat  pendukungnya untuk menciptakan kebersamaan dalam usaha untuk menyalurkan identitas, dengan demikian diharapkan pertunjukan Tayub benar-benar dikemas sedapat mungkin agar terkesan menarik bagi penikmatnya.

Dalam penyajiannya Tayub merupakan tari pergaulan, karena tari yang pemainnya adalah pria dan wanita, penari wanita biasanya disebut dengan ledhek sedangkan penari pria disebut pengibing atau penayub. Pengibing adalah sebutan untuk tamu undangan dan penonton yang berpartisipasi ikut serta menari Tayub.

Ditinjau dari teknik geraknya tari Tayub menggunakan gerakan yang sederhana, bahkan gerakan penari wanitanya cenderung monoton, yang lebih ditonjolkan justru dari lantunan lagu yang dinyanyikan. Gerakan para penari laki-laki (pengibing) justru lebih agresif dan bervariasi.

Teknik  atau  tingkat  keterampilan  gerak  yang  harus  dikuasai  oleh penari untuk melakukan suatu tarian merupakan faktor yang mempengaruhi menarik tidaknya sebuah pertunjukan (Murgiyanto, 2004: 61). Realitas yang ada dalam sebuah pertunjukan seni, pelaku seni mempunyai aspek daya tarik tersendiri. Bahwa pertama-tama muncul pada image penonton adalah sosok atau figur penarinya. Seperti halnya pada sebuah pertunjukan Tayub pelaku seni khususnya penari wanita mempunyai peran penting dalam pertunjukan, karena menjadi sentra atau pusat perhatian penonton.

Sosok penari Tayub atau ledhek berusaha untuk menarik perhatian lawan jenisnya dan membuat penonton ingin menari bersamanya. Berdasarkan uraian diatas maka penari Tayub selalu tampil dengan dandanan yang biasa dikatakan menor serta ingin selalu menonjolkan bentuk tubuhnya. Penampilan penari Tayub yang cantik dan menarik mencerminkan bahwa penari Tayub selalu ingin berkomunikasi dengan penonton dengan cara mengajak berjoged bersama. Di samping raut wajah yang selalu sumeh (ceria) juga mendukung daya tarik seorang penari Tayub. Selain itu untuk menjadi seorang joged dibutuhkan pengalaman pentas dan kemampuan berkomunikasi dengan para penonton (Widyastutieningrum, 2002: 109).

Dalam pementasan penari Tayub selalu digambarkan sebagai sosok yang cantik dan anggun, namun ada juga yang menganggap bahwa penari Tayub digambarkan dalam wujud emosional kebinalan yang dapat membuat lawan jenisnya terpikat.

Seni pertunjukan Tayub dalam pementasan mampu melibatkan banyak orang  dengan  berbagai  status  sosial,  mulai  dari  muda  sampai  orang  tua, mereka berkumpul dalam satu arena, di dalam pertunjukan Tayub penonton bukan hanya sebagai obyek dalam arti hanya duduk menonton, tetapi mereka terlibat langsung sebagai pemain. Penonton secara bergiliran atau bergantian ikut menari sebagai penayub di tengah-tengah arena pertunjukan, maka dalam pertunjukan  Tayub  setiap  penari  wanita  atau  ledhek selalu  dituntut  untuk tampil cantik dan seksi (bahenol) agar penonton terutama pengibing tertarik kepadanya, baik tertarik karena kecantikannya maupun gaya tarinya. Kondisi seperti ini tidak jarang mendorong munculnya libido penonton, sehingga bagi penonton yang memiliki banyak uang selalu berupaya untuk bisa ngibing dengan penari Tayub (Jazuli, 2000: 6).

Pertunjukan  Tayub  biasanya  diadakan  pada  siang  dan  malam  hari. Pada siang hari kurang lebih jam 11.00 – 15.00 WIB dan pada malam hari kurang lebih jam 22.00 – 03.00 WIB. Pada mulanya pertunjukan pada malam hari lebih ramai dan meriah. Penonton tua muda, besar kecil, tumpah ruah mengunjungi pertunjukan. Hal ini disebabkan pada malam hari sebagian besar masyarakat sudah selesai melaksanakan aktivitasnya, sehingga setiap ada pertunjukan masyarakat meluangkan kesempatan tersebut untuk menikmati pertunjukan.

Ketika pengrawit membawakan gendhing manguyu-uyu, masyarakat segera berdatangan untuk menonton pertunjukan Tayub. Dibawakannya gendhing  manguyu-uyu selain   untuk   menghibur  tamu undangan juga merupakan tanda bahwa pertunjukan segera dimulai.

Biasanya pertunjukan diawali dengan penyajian tari gambyongan oleh ledhek, baru dilanjutkan penyajian Tayub. Sajian inilah yang sangat ditunggu- tunggu oleh penonton, karena penonton dapat melampiaskan perasaannya dengan terlibat langsung dalam pertunjukan sebagai pengibing.

Pertunjukan  Tayub  sangat  menarik  untuk  dilihat  dari  sisi  penari maupun penonton. Dalam penelitian ini peneliti akan membahas pertunjukan Tayub dilihat dari sisi penonton yaitu yang berkaitan dengan motivasi dan keterlibatan penonton dalam pertunjukan Tayub di Desa Tunggak, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Penelitian ini dilakukan karena belum pernah ada penelitian sebelumnya yang membahas pertunjukan Tayub dilihat dari sisi penonton yang berkaitan dengan motivasi dan keterlibatan penonton dalam pertunjukan Tayub di Desa Tunggak,  Kecamatan   Toroh, Kabupaten Grobogan.

B.  Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, permasalahan dalam penelitian ini adalah :

  1. Apa yang memotivasi penonton dalam menikmati pertunjukan Tayub di Desa Tunggak, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.
  2. Bagaimana keterlibatan penonton dalam menikmati pertunjukan Tayub di Desa Tunggak, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: