BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Studi mengenai manajemen laba (earnings management) dalam tataran teoritis umumnya diawali dengan adanya penjelasan mengenai teori agensi (agency theory) dan teori signal (signalling theory). Teori agensi (agency theory) menyatakan bahwa praktik manajemen laba dipengaruhi oleh adanya konflik kepentingan antara manajemen (agent) dengan pemilik modal (principles) yang timbul karena masing-masing pihak (agent dan principles) berusaha untuk mencapai tujuan yang saling bertentangan, yaitu berkaitan dengan pencapaian bonus manajemen. Teori signal (signalling theory) membahas bagaimana seharusnya signal-signal keberhasilan atau kegagalan manajemen (agent) disampaikan kepada pemilik modal (principles). Dalam hal ini, penyampaian laporan keuangan dapat dianggap sebagai signal, yang berarti bahwa apakah agen telah berbuat sesuai dengan kontrak atau belum.

Dalam hubungan keagenan, manajer memiliki asimetri informasi terhadap pihak eksternal perusahaan seperti investor dan kreditor. Asimetri informasi terjadi ketika manajer memiliki informasi internal perusahaan yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan pihak eksternal. Kondisi ini memberi kesempatan kepada manajer dalam menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi pelaporan keuangan  sebagai usaha memaksimalkan laba.

Penelitian tentang manajemen laba sejalan dengan konsep teori akuntansi positif (positive accounting theory) yang beranggapan bahwa perilaku manajer atau pembuat laporan keuangan dalam proses pembuatan laporan keuangan dipengaruhi oleh banyak faktor (Watts dan Zimmerman, 1986). Dengan kata lain, faktor-faktor tersebut dapat menentukan kualitas laporan keuangan suatu perusahaan. Watts dan Zimmerman (1986) menyimpulkan bahwa ada tiga faktor yang berhubungan dengan perilaku manajer dalam mengatur tingkat keuntungan, yang dikenal dengan tiga hipotesis, yaitu: (1) hipotesis program bonus (the bonus plan hypothesis), (2) hipotesis perjanjian hutang (the debt covenant hypothesis), dan (3) hipotesis kos politis (the political cost hypothesis).

Menurut Scott (1997), penelitian Healy (1985) yang berjudul “The Effect of Bonus Schemes on Accounting Decisions,” merupakan studi empiris terbaik mengenai manajemen laba. Studi tersebut membahas mengenai program bonus, dimana manajer yang memperoleh bonus secara positif ketika laba berada di antara batas bawah (bogey) dan batas atas (cap). Ketika laba berada di bawah batas bawah (bogey) manajer tidak mendapatkan bonus, dan ketika laba berada di atas batas atas (cap) manajer hanya mendapatkan bonus tetap. Beneish (2001) menyatakan bahwa berkembangnya manajemen laba (earnings management) yang dilakukan melalui basis akrual disebabkan karena tiga hal yang terdiri atas: Pertama, akrual merupakan produk utama dari prinsip akuntansi yang berterima umum (Generally Accepted Accounting Principle), dan manajemen laba lebih mudah terjadi pada laporan yang berbasis akrual dibandingkan dengan laporan yang berbasis kas. Kedua, dengan mempelajari akrual akan mengurangi masalah yang timbul dalam mengukur dampak dari berbagai pilihan metode akuntansi terhadap laba. Ketiga, jika indikasi manajemen laba tidak dapat diamati dari akrual maka investor tidak akan dapat menjelaskan dampak dari earnings management pada penghasilan yang dilaporkan perusahaan. Sampai saat ini, telah berkembang beberapa model yang digunakan untuk mengukur tingkat manajemen laba, mulai dari model yang sederhana yang mengukur discretionary accruals sebagai total accruals sampai metode yang lebih canggih yang berupaya untuk memisahkan total accruals menjadi komponen discretionary dan nondiscretionary. Dechow, Sloan dan Sweeney (1995) berupaya menguji kinerja masing-masing model tersebut dan menunjukkan bahwa modifikasi dari model Jones (1991) lebih memiliki kekuatan dalam mendeteksi manajemen laba (earnings management).

Berbagai macam motivasi manajemen laba dilakukan oleh pihak manajemen (agent) terhadap laporan keuangan perusahaan sebagai bentuk tanggungjawabnya atas informasi keuangan kepada pemilik modal (principles) yang didasarkan pada teori agensi (agency theory). Salah satu dari motivasi tersebut adalah motivasi pergantian CEO (Chief Executive Officer). Motivasi ini dilakukan atas dasar perilaku-perilaku dari variabel diskresioner, yang menurut Murphy dan Zimmerman (1993) dikategorikan atas: riset dan pengembangan (research and development/R&D), iklan (advertising), pengeluaran modal (capital expenditures), dan akrual (accruals).

Manajemen laba dalam kaitannya dengan pergantian CEO memberi makna bahwa manajer berusaha untuk menunjukkan kinerja yang bagus pada saat sebelum pergantian CEO yang bertujuan untuk memberikan persepsi positif bagi pihak pemilik modal (sebagai principles). Kinerja yang bagus ini dibuktikan dengan upaya maksimisasi laba (income maximization) dan minimisasi laba (income minimization) atas laporan keuangan perusahaan.

Manajer yang memiliki kinerja buruk cenderung untuk melakukan  maksimisasi laba (income maximization), diharapkan agar pihak principles (pemilik modal) akan mempertahankan posisinya (tidak memberhentikan/memecatnya) sebagai CEO dan upaya minimisasi laba (income minimization) menunjukkan bahwa manajer baru akan menyalahkan kinerja dari CEO yang lama. Teknik yang dapat digunakan dalam upaya memaksimalkan dan meminimalkan laba diantaranya adalah mengubah metode akuntansi, memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi, dan menggeser perioda biaya atau pendapatan (Setiawati dan Na’im, 2000). Mengubah metode akuntansi berarti CEO berusaha melakukan perubahan metode akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi berarti manajemen memiliki cara untuk mempengaruhi laba melalui pertimbangan (judgement)-nya terhadap penetapan kebijakan estimasi akuntansi Rekayasa transaksi pendapatan dan beban berarti CEO berusaha melakukan percepatan atau penundaan dalam pengakuan pendapatan atau beban yang akan berpengaruh pada laba yang akan dihasilkan.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti bermaksud untuk membahas lebih lanjut tentang manajemen laba (earnings management) dalam hubungannya dengan pergantian CEO ke dalam sebuah tulisan yang berjudul “Pendeteksi Manajemen Laba Untuk Pergantian CEO (Chief Executive Officer) Pada Perusahaan Publik di Indonesia”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk meneliti perilaku manajemen laba yang dilakukan oleh manajer pada saat pergantian CEO. Penelitian ini menggunakan akrual diskresioner (discretionary accruals) untuk mendeteksi adanya praktik manajemen laba dalam laporan perusahaan. Oleh karena itu dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Apakah CEO melakukan manajemen laba sebelum masa pergantian CEO?
  2. Apakah CEO melakukan manajemen laba saat pergantian CEO?
  3. Apakah CEO melakukan manajemen laba sesudah masa pergantian CEO?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: