BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan usaha perusahaan dewasa ini tidak bisa terlepas dari peran berbagai  pihak, khususnya manajemen perusahaan. Manajemen perusahaan merupakan pemeran kunci untuk melaksanakan serta mengelola keuangan dan aktifitas perusahaan yang ada. Untuk itu pihak manajemen dituntut agar berusaha meningkatkan kualitas atau kemampuannya. Hal ini bertujuan untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan perusahaan hanya untuk menghasilkan laba yang sebesar-besarnya sudah kurang relevan lagi di masa sekarang, karena tanggung jawab perusahaan tidak hanya kepada pemilik saja. Berdasarkan hal ini maka tujuan yang sesuai adalah untuk memaksimalkan nilai suatu perusahaan. Penetapan tujuan yang benar akan sangat berpengaruh pada proses pencapaian tujuan dan pengukuran kinerja nantinya.

Kinerja keuangan perusahaan yang baik, tentu saja akan mendorong investor untuk melakukan investasi di perusahaan tersebut. Oleh karena itu, setiap pihak terutama eksternal memerlukan informasi atas kinerja perusahaan tersebut. Secara terbuka kinerja perusahaan harus diketahui oleh investor. Perusahaan-perusahaan go public banyak bermunculan tidak terkecuali pada sektor perbankan, terutama sejak diluncurkannya kebijakan deregulasi melalui Deregulasi  Juni 1983 (Pakjun 93) dan Deregulasi 27 Oktober 1988 (Pakto 1988). Akan tetapi berbagai deregulasi yang ada juga banyak menimbulkan masalah karena kurang mengutamakan prinsip pemerataan sebagai akibat sempitnya struktur kepemilikan dalam perbankan nasional. Struktur kepemilikan yang sempit dapat membuka peluang terjadinya praktek-praktek perbankan yang cenderung lebih menguntungkan para pemilik daripada nasabah atau masyarakat secara keseluruhan. Kondisi ini mendorong berkembangnya opini bahwa perbankan nasional belum efisien dan memiliki struktur yang rapuh.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah berusaha memulihkan kepercayaan masyarakat dengan mulai mengadakan pembenahan terhadap sektor perbankan. Kebijaksanaan pemerintah yaitu dengan melakukan due diligence terhadap bank-bank. Pemerintah mengeluarkan peraturan yang berkaitan dengan penilaian suatu bank untuk mengetahui kinerja melalui suatu metode CAMEL yang diatur dalam SK direksi Bank Indonesia No. 26/23/Kep/ DIR tanggal 1993. Penilaian sistem ini dimaksudkan untuk mengukur apakah manajemen bank telah melaksanakan sitem perbankan dengan asas-asas yang sehat. Pendekatan CAMEL yang selama ini digunakan untuk mengukur kinerja perbankan di Indonesia sudah baik, namun saat ini sudah tidak memadai lagi sebagai pengalisisan bank, karena dipengaruhi oleh faktor-faktor yang tidak dapat ditentukan subyektifitas dan ada kalanya tidak konsisten.

Untuk mengukur kinerja perusahaan, investor biasanya menggunakan ukuran kinerja keuangan yang berupa berbagai macam rasio.Pengukuran kinerja dengan menggunakan rasio saat ini tidak dapat dipertanggungjawabkan karena rasio keuangan yang dihasilkan sangat bergantung pada metode atau perlakuan akuntansi yang digunakan. Dalam analisis rasio perlu adanya pembanding yang dimiliki oleh perusahaan laian atau analisis trend terhadap rasio beberapa tahun sebelumnya.

Dengan adanya keterbatasan tersebut, maka analisis rasio perlu dilengkapi dan diperbandingkan dengan metode lain. Salah satunya adalah metode Economic Value Added (EVA). Konsep Economic Value Added (EVA) dikembangkan oleh Stern Stewart & Company yang merupakan pengukur kinerja internal perusahaan dan belum begitu dikenal luas. Berbeda dengan pengukuran kinerja akuntansi yang tradisional, cara EVA mengukur kinerja perusahaan adalah dengan mengurangi laba operasi setelah pajak dengan beban biaya modal (cost of capital) dimana beban biaya modal mencerminkan tingkat resiko perusahaan. Penggunaan EVA membuat perusahaan bisa lebih memfokuskan perhatian pada penciptaan nilai perusahaan. Konsep EVA merupakan suatu ukuran kinerja operasional yang bisa berdiri sendiri tanpa perlu ukuran/angka yang lain dan EVA tidak memerlukan analisis kecenderungan dan atau perbandingan dengan perusahaan yang memiliki tingkat risiko hampir sama (Widayanto, 1993).

Suatu penelitian mengenai EVA telah dilakukan oleh Rousana (1997) dengan sampel sebanyak 30 perusahaan terbuka di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitiannya adalah tidak terdapat korelasi yang signifikan antara EVA dengan harga pasar saham yang diperlihatkan dengan cara menghubungkan nilai EVA suatu perusahaan dengan nilai MVA-nya. Tidak signifikannya korelasi antara Economic Value Added dan Market Value Added membuktikan bahwa belum efisiennya pasar modal di Indonesia, para investor belum menggunakan sepenuhnya informasi yang tersedia untuk menganalisis suatu saham perusahaan.

Purwati (1999) melakukan penelitian mengenai perbandingan antara Economic Value Added, Market Value Added, dan analisis rasio dalam membedakan kinerja keuangan baik dan tidak baik pada industri manufaktur yang go publik di Bursa Efek Jakarta periode 1995-1996. Hasil penelitiannya mengemukakan bahwa EVA dan MVA dapat menjelaskan secara signifikan terpisahnya dua kelompok perusahaan antara perusahaan berkinerja baik dan tidak baik pada industri manufaktur go publik di BEJ.

Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu yaitu penelitian Purwati (1999), dan Susanto dan Salim (1999) yang menggunakan pendekatan Economic Value Added, Market Value Added, dan analisis rasio dalam menilai kinerja industri manufaktur yang go public periode 1995-1996 (sebelum krisis). Peneliti ingin menguji generalisasi hasil dari penelitian sebelumnya dengan menggunakan prosedur analisis yang sama tetapi menggunakan sampel yang berbeda, serta periode penelitian yang berbeda.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk membuat karya ilmiah dengan judul: ” Penerapan Economic Value Added dan Analisis Rasio Untuk Mengklasifikasikan Kesehatan Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta”.

1.2  Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka permasalahan yang dirumuskan adalah:

  1. Apakah Economic Value Added (EVA) dapat menjelaskan secara signifikan terpisahnya kelompok bank kategori sehat dan tidak sehat di BEJ?
  2. Apakah Economic Value Added (EVA) berperan dominan dalam menjelaskan pengelompokkan bank kategori sehat dan tidak sehat di BEJ?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: