BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasar modal di Indonesia sejak tahun 1977 sampai sekarang telah menunjukkan perkembangan yang pesat. Hal ini terlihat dari jumlah perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta yang selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 1985 sampai dengan tahun 1988 jumlah emiten yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta hanya sejumlah 24 perusahaan. Kemudian setelah tahun 1988, dengan adanya sejumlah paket-paket deregulasi yang dikeluarkan pemerintah, jumlah emiten yang terdaftar semakin meningkat. Pada awal tahun 1990-an, jumlah emiten yang terdaftar adalah sebanyak 127 perusahaan yang terus meningkat sampai tahun 1996 dengan jumlah emiten 238 perusahaan (Hartono, 2003:40).

Pasar modal menyediakan banyak sekali informasi yang tersedia bagi para investor. Informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi para investor dalam mengambil keputusan. Penggunaan informasi keuangan melalui laporan keuangan oleh pihak luar yaitu untuk membuat keputusan investasi dalam menentukan sumber daya yang akan diinvestasikan, dan juga upaya untuk memutuskan pemberian kredit oleh kreditor. Laporan keuangan sebagai sumber utama informasi akuntansi disusun sebagai tujuan untuk memenuhi kebutuhan pemakai. Pemakai menggunakan laporan keuangan untuk mengambil keputusan yang mempunyai konsekuensi ekonomi (Gantyowati, 2001). Laporan keuangan dirancang guna mengetahui kemampuan atas solvency dan profitability perusahaan (Parawiyati, dkk., 2000).

Laporan keuangan menggambarkan kinerja suatu perusahaan yang merupakan hasil dari serangkaian proses dengan mengorbankan sumber daya. Adapun salah satu parameter kinerja tersebut adalah laba. Pentingnya informasi laba secara tegas telah disebutkan dalam PSAK (Pernyataan Stanadar Akuntansi Keuangan) No. 25 yaitu: laporan laba rugi merupakan laporan utama untuk melaporkan kinerja suatu perusahaan selama periode tertentu. Bentuk tindakan lain dalam pengungkapan laporan keuangan adalah dengan melaporkan arus kas. Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) mengeluarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.2 tentang arus kas yang merekomendasikan perusahaan harus memasukkan laporan arus kas sebagai bagian tidak terpisah dari pelaporan keuangan.

Penelitian mengenai kandungan informasi laba akuntansi terhadap harga saham diantaranya dilakukan oleh Balls dan Brown (1968) yang membuktikan bahwa kandungan informasi earning lebih baik dari pada kandungan informasi arus kas dalam memprediksi arus kas mendatang. Penelitian lainnya yang menguji kemampuan prediksi laba adalah Finger (1994). Finger mengunakan model regresi linier dan mendapatkan kesimpulan pada penelitiannya bahwa laba lebih memberikan isi informasi inkremental dibandingkan arus kas. Sejalan dengan Finger (1994), Parawiyati dan Baridwan (1998) melakukan replikasi penelitian Finger (1994) dengan memodifikasi dan dapat diambil kesimpulan bahwa laba merupakan predikator yang lebih baik daripada arus kas.

Penelitian yang menguji nilai tambah informasi arus kas mulai dilakukan diantaranya oleh Bowen et al (1986, 1987). Wilson (1986, 1987) dan Rayburn (1986) juga melakukan pengujian kandungan informasi arus kas dan hasilnya sama dengan temuan Bowen et al. Berikutnya Barlev dan Livnat (1989), setelah melakukan penelitian menyatakan terdapat hubungan yang lebih kuat antara kandungan informasi arus kas dengan harga saham dibandingkan dengan rasio neraca dan laba rugi. Lebih lanjut Livnat dan Zarowin (1990) menguji komponen arus kas dengan mengunakan model analisa regresi berganda. Pengujian berhasil membuktikan bahwa komponen arus kas mempunyai hubungan positif lebih kuat dengan abnormal return saham dibandingkan dengan arus kas total atau laba akrual dengan abnormal return. Berbeda dengan penelitian diatas, Bernard dan Stober (1989) melakukan pengujian yang hasilnya tidak konsisten dengan penyataan Wilson (1987). Penelitian ini membuktikan bahwa operating cash flow tidak mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan harga saham dibanding dengan current accrual. Bernard dan Stober (1989) melakukan replikasi penelitian Wilson (1987) dengan perbedaan periode waktu yang lebih panjang.

Penelitian mengenai arus kas di Indonesia dilakukan oleh Saudi (1998), yang dalam penelitiannya menunjukan bahwa laporan arus kas mempunyai hubungan dengan jumlah pembayaran deviden yang terjadi dalam satu tahun setelah terbitnya laporan arus kas. Hal ini menunjukan bahwa laporan arus kas mempunyai kandungan informasi dan bermanfaat bagi investor. Triyono dan Hartono (2000) dalam penelitiannya memperoleh kesimpulan bahwa pembedaan komponen kas (arus kas opreasi, investasi, dan pendanaan) seperti yang disyarakatkan dalam PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan) No.2 mempunyai pengaruh yang berbeda-beda terhadap return saham. Baridwan (1997) menguji hubungan informasi dalam laporan rugi laba dengan jumlah kas yang diukur dengan pendekatan tidak langsung. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa terdapat korelasi yang kuat antara laba dengan arus kas dan pengungkapan informasi arus kas memberikan nilai tambah bagi pemakai laporan keuangan.

Ferry dan Wati (2004) melakukan penelitian mengenai pengaruh informasi laba dan komponen arus kas terhadap harga saham. Penelitian dilakukan terhadap perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ periode 1999-2002. Hasil penelitian tersebut menunjukkan laba akuntansi lebih banyak dipakai oleh investor daripada total arus kas. Bertentangan dengan hasil penelitian Livnat dan Zarowin (1990), hasil penelitian Ferry dan Wati (2004) tersebut tidak menemukan bukti bahwa pemisahan komponen arus kas menyebabkan pengaruh yang lebih signifikan terhadap harga saham.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian Ferry dan Wati (2004), dengan tujuan untuk melakukan pengujian empiris pengaruh informasi laba, arus kas, dan komponen arus kas terhadap harga saham. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Ferry dan Wati (2004) adalah pada penggunaan periode penelitian, dimana penelitian ini menggunakan periode 2003-2005 sebagai periode penelitian. Periode ini dipilih dengan harapan penelitian dapat menggunakan data yang lebih aktual. Sampel yang digunakan adalah perusahaan manufaktur, pemilihan perusahaan manufaktur didasarkan kepada fakta bahwa perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang sahamnya paling diminati oleh para investor. Hal ini dapat dilihat dari data BEJ yang menunjukkan bahwa saham perusahaan manufaktur merupakan saham-saham unggulan dan paling aktif diperdagangkan. Motivasi dari penelitian ini adalah upaya untuk menutupi kelemahan penelitian Ferry dan Wati (2004), dimana terdapat keterbatasan jumlah sampel akibat adanya data yang bersifat outlier. Untuk menutupi kelemahan tersebut, penelitian ini dilakukan dengan cara mentranformasikan data, sehingga diharapkan mengurangi outlier data. Pengurangan terhadap outlier akan menyebabkan penambahan jumlah sampel. Penambahan jumlah sampel pada penelitian ini, diharapkan bisa diperoleh hasil yang lebih baik dan akurat.

Berdasarkan latar belakang di atas yang memberikan gagasan dan motivasi bagi peneliti, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: “Pengaruh Informasi Laba, Arus Kas, dan Komponen Arus Kas Terhadap Harga Saham (Studi Pada Saham-Saham Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar  di Bursa Efek Jakarta)”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dijelaskan diatas, permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh informasi laba, arus kas dan komponen arus kas terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta?

Skripsi Daftar Pustaka


Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: