BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Salah satu ciri dari era globalisasi yang sedang atau akan kita hadapi di masa depan, ditandai dengan adanya perdagangan bebas. Perdagangan bebas mendatang yang akan kita hadapi, diwarnai dengan semakin meningkatnya persaingan serta gejolak harga pasar yang membuat ketidakpastian usaha semakin meningkat untuk mempertahankan usahanya, maka perusahaan dituntut untuk mampu mengembangkan usaha hingga ke dunia internasional. Akibatnya perusahaan akan melakukan transaksi dengan perusahaan di luar negeri.

Perdagangan dua negara tidaklah sama dengan perdagangan satu negara yang memakai satu mata uang, karena untuk perdagangan dua negara memakai dua mata uang yang sangat berbeda. Adanya transaksi dengan mata uang yang berbeda dapat menimbulkan risiko keuangan bagi perusahaan akibat adanya perubahan kurs mata uang. Risiko tersebut dapat dihindari dengan melakukan transaksi tunai. Namun tidak semua transaksi yang terjadi pada perusahaan dapat dilakukan secara tunai, akibatnya akan timbul hutang dan piutang dalam mata uang asing. Sehingga apabila terjadi perubahan nilai tukar valuta asing, perusahaan akan mengalami kerugian/keuntungan akibat perubahan tersebut.

Tidak hanya perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan di luar negeri yang akan menghadapi risiko keuangan akibat fluktuasi nilai tukar mata uang asing. Tetapi risiko ini juga akan dihadapi oleh para importir / eksportir serta perusahaan-perusahaan yang bertransaksi atau mempunyai kewajiban dan aktiva dalam bentuk mata uang asing. Bahkan tidak hanya itu, perusahaan yang tidak bertransaksi dalam valuta asing pun ( tidak melakukan aktivitas internasional, ekpor maupun impor ) juga akan terpengaruh oleh risiko nilai tukar ( Faisal, 2001 : 7 ).

Untuk itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan-perusahaan yang sering kali atau kerap bertransaksi dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan nilai tukar dan suku bunga. Diantaranya yaitu perusahaan harus melakukan peramalan pergerakan kurs valuta asing, memonitor kinerja perusahaan terhadap risiko kerugian yang ditimbulkan oleh fluktuasi valuta asing, serta merancang strategi untuk menghindari kerugian dari risiko fluktuasi valuta asing (hedging). Untuk itu sangat penting artinya bagi perusahaan melakukan tindakan lindung nilai ( hedging ).

Hedging menurut pengertian Faisal ( 2001 : 8 ) adalah suatu tindakan melindungi perusahaan untuk menghindari atau mengurangi risiko kerugian atas valuta asing sebagai akibat dari terjadinya transaksi bisnis. Sehingga  perusahaan dapat melakukan penjualan atau pembelian sejumlah mata uang, untuk menghindari risiko kerugian akibat selisih kurs yang terjadi karena adanya transaksi bisnis yang dilakukan perusahaan tersebut.

Hedging sangat bermanfaat bagi perusahaan yang memiliki usaha dan kerap bertransaksi yang berkaitan dengan suku bunga atau nilai tukar. Jika perusahaan mempunyai hutang dalam valuta asing dan suku bunga mengambang, mereka pasti akan terpengaruh. Menghadapi suku bunga yang cenderung naik dan nilai tukar berfluktuatif, kebutuhan hedging juga dirasakan semakin besar khususnya oleh perusahaan-perusahaan umum yang kerap melakukan ekspor dan impor.

Hedging juga dapat mengurangi kemungkinan bangkrut, memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan kredit dari kreditor dengan lebih mudah, menjalin kerjasama yang lebih baik dengan pemasok, dan barangkali memungkinkan perusahaan untuk mendapatkan pinjaman dengan suku bunga yang lebih rendah (karena risiko yang dirasakan oleh pemberi pinjaman lebih rendah). Hedging juga dapat memungkinkan perusahaan untuk meramalkan pengeluaran dan penerimaan kas di masa depan dengan lebih akurat, sehingga dapat mempertinggi kualitas dari keputusan penganggaran kas ( Weston dan Copeland, 1995 ).

Menurut Madura ( 2000 : 322 ), jika perusahaan multinasional memutuskan untuk melakukan lindung nilai ( Hedging ) sebagian atau seluruh exposure transaksinya, perusahaan dapat menggunakan perangkat-perangkat hedging berupa kontrak futures, kontrak forward, instrumen pasar uang, dan opsi valuta. Salah satu teknik hedging yang banyak disukai dan digunakan oleh perusahaan multinasional yaitu hedging contract forward.

Kontrak forward diimplementasikan menggunakan kurs forward ( forward rate ). Kurs forward mewakili kurs penukaran valuta pada suatu waktu di masa depan. Jika sebuah perusahaan multinasional memperkirakan akan adanya kebutuhan atau penerimaan suatu valuta asing tertentu di masa depan, perusahaan tersebut dapat melakukan kontrak forward untuk mengunci kurs pembelian atau penjualan valuta tersebut. Strategi ini digunakan untuk berlindung dan kemungkinan valuta yang dimaksud mengalami depresiasi di kemudian hari. Periode forward yang paling umum adalah 30, 60, 90, 180, 360 hari, walaupun periode-periode lain juga tersedia. Kurs forward dari suatu valuta biasanya akan bervariasi menurut panjangnya periode forward. Dalam dunia nyata sekarang, semua perusahaan multinasional mengggunakan kontrak forward ( Madura, 2000 : 62 ).

Beberapa alasan mengapa teknik ini lebih sering digunakan adalah adanya keluwesan yang dimiliki oleh kontrak forward ,yaitu dengan mengijinkan pembeli untuk mendapatkan valuta asing pada setiap hari selama beberapa hari sebelum periode kontrak sehingga keluwesan ini dapat membebaskan pembeli dari ketidak pastian ( Levy, 2001 : 67 ).

Kontrak forward dengan bank dapat dibuat untuk setiap jumlah yang diinginkan sedangkan untuk kontrak futures dan opsi valuta, jumlah nilai kontrak dan tanggal jatuh tempo telah terstandarisasi, tidak fleksibel seperti kontrak forward. Selain itu kontrak forward memiliki jangka waktu kontrak maksimum yang relatif panjang, yaitu beberapa tahun dibanding dengan kontrak futures dan opsi valuta yang hanya memiliki waktu maksimum 12 bulan dan 9 bulan ( Levy, 2001 : 99 ). Selain itu, di pasar forward tidak terdapat aturan formal dan universal untuk melakukan penyesuaian terhadap simpanan karena fluktuasi kurs spot mendatang yang diharapkan dan nilai kontrak forward. Di pasar forward tidak terdapat persyaratan marjin yang formal dan universal.

Sehingga dengan adanya keluwesan dalam menentukan nilai kontrak forward, biaya  yang dikeluarkan pun relatif lebih rendah daripada teknik lain, cara mempertahankan marjin, serta tidak adanya risiko marking to market ( risiko yang disebabkan oleh variabilitas tingkat bunga dimana penyesuaian marjin dilakukan setiap hari, yang seringkali dihadapi oleh kontrak futures ), membuat kontrak forward lebih sering digunakan daripada teknik hedging lainnya oleh importir, eksportir, peminjam, dan investor yang ingin secara tepat membatasi risiko valuta asing dan eksposure ( Levy, 2001 : 81 ).

Menurut Madura ( 2000 : 64 ), kontrak forward antara sebuah perusahaan multinasional dengan banknya dapat dibuat khusus untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan dari perusahaan tersebut. Periode-periode kontrak forward untuk 2 tahun atau lebih tersedia untuk berbagai valuta. Sejumlah bank bahkan menawarkan kontrak forward berjangka waktu 5 tahun bagi sejumlah perusahaan besar. Kontrak forward semacam ini ditujukan untuk mengakomodasi kebutuhan-kebutuhan perusahaan-perusahaan besar, nilainya biasanya lebih dari $ 1 juta. Kontrak forward jarang digunakan oleh konsumen atau perusahaan-perusahaan kecil.

Sehingga dengan adanya latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini akan membahas bagaimana cara sebuah perusahaan multinasional dalam meminimlkan risiko keuangan yang diakibatkan oleh fluktuasi valuta asing dengan menggunakan hedging contract forward yang seringkali digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki transaksi dalam mata uang asing yang relatif besar. Dimana salah satu alasan dipilihnya hedging dengan menggunakan kontrak forward adalah adanya berbagai keluwesan yang dimiliki oleh kontrak forward dibandingkan dengan teknik hedging lainnya ( kontrak forward lebih fleksibel karena tidak terstadarisasi ).    Sehingga perusahaan dapat menentukan sendiri nilai dan jatuh tempo kontrak.

Adapun alasan pemilihan periode jatuh tempo kontrak forward selama satu ( 1 ) tahun adalah diperkirakan sepanjang tahun 2002 terjadi ketidakstabilan nilai tukar mata uang asing akibat memburuknya kondisi ekonomi yang masih berkelanjutan dari tahun sebelumnya, yaitu tahun 2001 ( tahun 2001, perusahaan bahkan menanggung rugi selisih kurs sebesar Rp. 16.429.328.545 ). Sehingga apabila perusahaan tidak melakukan tindakan untuk melindungi aktiva/kewajibannya dalam mata uang asing, dikhawatirkan akan memperburuk beban pendanaan perusahaan yang nantinya juga akan mempengaruhi laba perusahaan sepanjang tahun 2002. Sehingga perusahaan melakukan  antisipasi dengan melakukan hedging kontrak forward selama satu ( 1 ) tahun untuk menghindari kerugian yang mungkin diderita perusahaan selama sepanjang tahun 2002 dan diperkirakan pada tahun 2003 kondisi perekonomian dan nilai tukar mata uang asing telah kembali stabil.

Perusahaan yang terpilih menjadi subyek penelitian merupakan salah satu perusahaan farmasi ( barang konsumsi ) yang terdaftar di BEJ. Dipilihnya perusahaan farmasi karena selain produksi makanan, kebutuhan akan farmasi merupakan kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan dan dicari oleh masyarakat. Sehingga meskipun terjadi perubahan perekonomian ( seperti terjadinya inflasi ), sektor ini tidak akan begitu terpengaruh karena masyarakat pasti akan mencari dan membutuhkannya. Selain itu perusahaan yang terpilih menjadi subyek penelitian, diutamakan adalah perusahaan yang mempunyai skala internasional. Salah satu perusahaan farmasi yang cukup terkenal adalah PT. Bayer Indonesia, Tbk yang merupakan perusahaan licensing dari PT. Bayer AG, Jerman.

PT. Bayer Indonesia, Tbk yang berkantor pusat di Mid Plaza 1, Lantai 16 Jalan Jenderal Sudirman Kav 10-11, Jakarta, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang farmasi tepatnya dalam memproduksi keperluan pengobatan, pertanian, keperluan rumah tangga, dan industri lainnya.

Fasilitas produksi Perseroan terletak di dua lokasi, yakni Cibubur dan Pulogadung, keduanya berada di Propinsi Khusus Ibukota Jakarta Raya. Produk-produk Perseroan digolongkan atas tiga kelompok, yakni farmasi, proteksi tanaman serta alat-alat kesehatan rumah tangga dan obat-obatan tanpa resep (OTC).

Dilihat dari laporan keuangan yang diterbitkan, PT. Bayer Indonesia, Tbk banyak melakukan transaksi dengan menggunakan mata uang asing. Hal ini dikarenakan bahan baku berasal dari berbagai negara seperti Jerman, India, Jepang, Amerika Serikat, Belanda, Singapura, Swiss, dan lain-lain dengan bagian terbesar diimpor dari Jerman. Hal ini mengakibatkan Perseroan menghadapi risiko penurunan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing yang kuat. Risiko ini akan mengakibatkan kenaikan harga bahan baku aktif dan bahan penolong yang pada akhirnya dapat menurunkan kemampuan Perseroan dalam menghasilkan laba. Hal ini menyebabkan perlu dilakukannya usaha lindung nilai (hedging) untuk mengurangi risiko selisih kurs yang timbul dari transaksi tersebut.

Dari uraian di atas, maka penulis mengadakan penelitian dengan judul :

” PENGGUNAAN TEKNIK HEDGING CONTRACT FORWARD UNTUK MEMINIMALKAN RISIKO SEBAGAI AKIBAT SELISIH KURS ” ( Studi Kasus pada PT. Bayer Indonesia, Tbk )

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas. permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana penerapan hedging contract forward agar risiko kerugian atas transaksi valuta asing dapat diminimalkan ?
  2. Apa manfaat dari penerapan hedging contract forward bagi perusahaan ?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: