BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Keberadaan etnis Cina di Surabaya telah dimulai sejak abad ke-15, dan dalam perjalanannya etnis Cina telah ikut proses asimilasi dan akulturasi dengan kebudayaan bangsa Indonesia asli maupun dengan golongan etnis lainnya yang juga bertempat tinggal. Orang-orang Cina sudah bergaul (ada pula yang menikah dengan penduduk setempat dan juga tidak sedikit yang berpindah keyakinan), tinggal menetap bahkan banyak dari mereka telah beralih kewarganegaraan yang disebut WNI keturunan Cina. Seperti yang dikatakan oleh Murbandono dalam Hamzah (1998):

“Pendatang-pendatang baru dari Tiongkok pada masa sesudahnya juga menjadi bagian integral proses pembentukan masyarakat baru. Itu berlangsung berabad-abad, menjadi “bangsa” yang stabil dan final secara kultural dengan proses pembauran alamiah“.

Kehadiran mereka di Surabaya telah memberikan banyak manfaat. Kontribusi yang mereka berikan, jika diamati sejauh ini banyak yang menuai kesuksesan. Meskipun merupakan bangsa pendatang, akan tetapi sepertinya mereka tidak memandang hal itu sebagai hambatan, bahkan mereka selalu bisa terkemuka dalam bidang perekonomian. Mayoritas bidang perekonomian yang dikuasai oleh etnis Cina di Surabaya adalah pada sektor swasta, mereka memang lebih inovatif dalam memproduksi atau menciptakan produk-produk baru dan yang lebih unggul.

Jumlah penduduk etnis Cina di Indonesia merupakan minoritas, menurut hasil sensus penduduk Tahun 2000, yang terlihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 1: Jumlah Etnis Cina di 11 Propinsi di Indonesia

Tahun 2000

Propinsi

Jumlah

Etnis Cina

Total Keseluruhan Penduduk

Prosentase

Jawa Timur

190.968

34.756.400

0,55

Jawa Tengah

163.531

30.917.006

0,54

Jawa Barat

163.255

35.668.374

0,46

Yogyakarta

9.942

3.119.397

0.32

Banten

90.053

8.079.938

1.11

Jakarta

460.002

8.324.707

5.53

Bangka Belitung

103.736

898.889

11.54

Sumatra Barat

15.029

4.241.256

0.35

Riau

176.853

4.750.068

3.72

Bali

10.630

3.145.368

0.34

Kalimantan Barat

352.937

3.732.419

9.46

Total

1.738.936

101.965.448

-

Sumber : Leo Suryadinata, 2002

Data dari tabel diatas, tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di Surabaya. Jumlah etnis Cina di Surabaya sendiri menurut Ridwan (2004), adalah sebesar 300.000 dari 3.000.000 keseluruhan penduduk kota Surabaya. Dengan jumlah populasi yang tergolong minoritas tersebut, etnis Cina mampu menunjukkan jati diri sebagai komponen kota Surabaya yang berperan aktif, atau dengan kata lain etnis Cina mampu mendongkrak sisi perekonomian Surabaya dengan serangkaian perilaku ekonomi yang sangat mengagumkan melalui sektor swasta.

Meski cukup berhasil terutama dalam bidang perekonomian, etnis Cina tidak terlepas dari tekanan yang datang dari segi politis, terutama ketika Orde Baru berjaya, F. R. Wulandari (2000), mengemukakan bahwa para etnis Cina di Surabaya mengalami diskriminasi, yang disebabkan adanya beberapa peraturan yang mengatur eksistensi etnis Cina di Indonesia , yaitu:

  1. Keputusan Presiden Kabinet No. 127/U/KEP/12/1996 tentang masalah ganti nama.
  2. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/IV/6/1967 tentang Kebijakan Pokok Penyelesaian masalah Cina yang wujudnya dibentuk dalam Badan Koordinasi Masalah Cina, yaitu sebuah unit khusus di lingkungan Bakin.
  3. Instruksi Presiden No.14/1967, yaitu tentang pembatasan agama, kepercayaan dan adat istiadat Cina.
  4. Surat Edaran Presidium Kabinet RI no. SE-06/PresKab/6/1967, tentang kebijakan pokok WNI keturunan asing yang mencakup pembinaan WNI keturunan asing melalui proses asimilasi terutama untuk mencegah terjadinya kehidupan eklusif rasial, serta adanya anjuran supaya WNI keturunan asing yang masih menggunakan nama Cina diganti dengan nama Indonesia.
  5. Instruksi Presidium Kabinet No. 37/U/Indonesia/6/1967 tentang tempat-tempat yang disediakan untuk anak-anak WNA Cina disekolah-sekolah nasional sebanyak 40% dan setiap kelas jumlah murid WNI harus lebih banyak murid-murid WNA Cina .
  6. Insrtuksi Menteri Dalam Negari No. 455.2-360/1968 tentang penataan Kelenteng-kelenteng di Indonesia.
  7. Surat Edaran Dirjen Pembinaan Pers dan Grafika No. 02/SE/Ditjen/PP6/K/1988 tentang larangan penerbitan dan pencetakan tulisan/ iklan beraksen dan berbahasa Cina.

Meski peraturan yang dikeluarkan pemerintah seakan membatasi ruang gerak Cina sedemikian rupa, namun realitasnya mereka tetap bisa bertahan. Apalagi setelah pergantian rezim, yang pada saat itu dijalankan oleh mantan Presiden Abdurrahman Wahid, yang memberi kebebasan etnis Cina untuk menjalankan usahanya tanpa ada diskriminasi, dengan mencabut sejumlah peraturan yang mendiskriminasikan mereka. Melalui Keputusan Presiden No 6/2000 tentang pencabutan Instruksi Presiden No 14/1967. Dengan dicabutnya peraturan tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina, maka etnis Cina di Indonesia diperbolehkan kembali melaksanakan ibadah di muka umum. Tahun 2001, Menteri Agama mengeluarkan Surat Keputusan No.13 Tahun 2001 yang menetapkan hari raya dan tahun baru Imlek sebagai hari libur fakultatif. Persiden Megawati kemudian menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden No. 19/2002 yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003.

Pencabutan pendiskriminasian tersebut, dikemudian hari mendorong etnis Cina di Surabaya untuk semakin giat mengembangkan potensi dengan tetap memegang teguh kekentalan kebudayaannya, sebagai salah satu ciri khas yang menunjukkan existensi mereka. Salah satu bentuk dedikasi etnis Cina, adalah didirikannya Chinatown yang syarat akan kekentalan nuansa budaya Cina. Chinatown tersebut diberi nama Kya-Kya Kembang Jepun, merupakan kawasan komunitas etnis Cina di Surabaya, atau yang lebih familiar disebut sebagai “pecinan”. Etnis Cina memang terkenal sebagai etnis yang cinta akan budaya sendiri, seperti yang dikemukakan oleh Coppel (1994):

“Orang Cina suka berkelompok dan tinggal di kawasan tersendiri, dengan selalu berpegang teguh pada kebudayaan negeri leluhur mereka. Perilaku etnosentrisme etnis Cina di Indonesia masih cukup kental, keberhasilan bisnis etnis Cina cukup unik, karena lebih disebabkan oleh basis kultural-kekeluargaan, daripada formal-legal“.

Hampir di setiap negara di penjuru dunia, memiliki pecinan yang berfungsi sebagai pusat hunian masyarakat etnis Cina, sekaligus pusat ekonomi dan perdagangan.  Dibuka pada tanggal 31 Mei 2003, dengan pemilihan momentum yang tepat, yaitu bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun kota Surabaya ke 710, dengan jenis usaha membuat/ memproduksi makanan. Wilayah Kembang Jepun sendiri adalah sebuah area yang secara mayoritas dan turun-temurun dihuni oleh etnis Cina di Surabaya. kawasan Kya-Kya dibuat sedemikian rupa, agar memiliki daya tarik yang unik.

Data dari PT. Kya-Kya (2006), menjelaskan bahwa panjang area 750 meter dan lebar 20 meter, jumlah pedagang yang beroperasi saat ini adalah sebanyak 56 pedagang. Waktu berdagang mulai sore hari sampai tengah malam, yaitu pk. 18.00-24.00, dengan jumlah perlengkapan berupa kursi sebanyak 200 buah dan jumlah meja sebanyak 50 buah. Keamanan, drainage, kebersihan yang dilakukan setiap waktu melalui tenaga cleaning service yang selalu siap sedia setiap pengunjung meninggalkan meja, serta beberapa mobil toilet, semuanya disediakan sebagai fasilitas dan untuk kenyamanan para pengunjung.

Pendirian Kya-Kya mendapat tanggapan positif dari pemerintah kota setempat. Karena selain menjadi tempat tujuan wisata baru dengan ke-khasan budaya Cina-nya, kehadiran Kya-Kya mampu memberikan pendapatan bagi Pemkot Surabaya, melalui pajak reklame yang dipasang di gerobak para pedagang, boks neon, dan gapura di lokasi Kya-Kya, dengan kisaran nominal sebesar Rp 200 juta per tahunnya.

Kemampuan etnis Cina yang minoritas dengan mendirikan Chinatown tersebut membuktikan bahwa perilaku ekonomi terutama dari segi produksi yang mereka jalankan sangat menonjol dibandingkan dengan komunitas penduduk lainnya yang menempati wilayah kota Surabaya. Melalui Kya-Kya Kembang Jepun, etnis Cina mampu membentuk komunitas sendiri yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai wadah bersosialisasi, namun juga sebagai tempat mereka mencari mata pencaharian.

Perilaku produksi yang dijalankan pedagang etnis Cina di Kya- Kya Kembang Jepun Surabaya tersebut mengundang tanda tanya besar tentang bagaimana mereka dengan jumlah yang sangat minim, mampu melakukan kegiatan produksi secara lebih unggul dibanding etnis lain dan warga negara Indonesia, yang dalam hal ini penduduk asli kota Surabaya.

Untuk lebih mendalami para pedagang etnis Cina di Kya-Kya Surabaya dalam melakukan kegiatan produksi, maka kajian yang paling tepat yang dipakai untuk mengungkapnya ialah melalui kajian kelembagaan. Karena pendekatan kelembagaan membahas mengenai aturan yang mendasari perilaku manusia dalam menjalankan hidupnya, termasuk menjalankan kegiatan di bidang ekonomi. Kelembagaan mengkaji tentang pengaruh segi budaya, aturan yang dibuat oleh dan berlaku bagi manusia, baik secara internal maupun secara eksternal, dalam mempengaruhi perilaku ekonomi manusia.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah perilaku produksi pada pedagang etnis Cina di Kya-Kya Kembang Jepun kota Surabaya dengan pendekatan kelembagaan?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: