BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pergerakan dunia menuju dunia tanpa batas (borderless world) telah banyak merubah berbagai aspek kehidupan. Proses ini menggerakkan perdagangan bebas antar benua, perpindahan manusia, barang dan modal yang semakin leluasa, serta pemakaiaan sumber daya – sumber daya diseluruh dunia menuju efisiensi yang lebih tinggi. Salah satu penyebab hal ini adalah kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin memudahkan manusia.

Salah satu pilar globalisasi yaitu penggunaan teknologi informasi. Teknologi informasi telah menawarkan berbagai macam kemudahan seperti kecepatan akses data dan informasi, pemecahan masalah serta otomatisasi pekerjaan dan sebagainya. Penggunaan secara intensif maupun ekstensif atas komputer, internet, telepon seluler dan ATM telah mengatasi batasan ruang dan waktu. Negroponte (1995), seorang visionaris teknologi digital dari MIT Media Lab menyebut fenomena dramatis ini sebagai digitalisasi.

Dengan pesatnya pergerakan globalisasi ekonomi, berkembangnya teknologi dan informasi, kompetisi di berbagai bidang profesi semakin ketat. Penguasaan atas perkembangan teknologi informasi menjadi sesuatu yang mutlak seiring semakin mengglobalnya industri modern, baik manufaktur maupun jasa.

Maurisi P Purba (2002) menyebutkan bahwa perkembangan teknologi informasi akan mengakibatkan perubahan ekonomi global dari model industrial economy menjadi networked economy. Networked economy ini pula menurut Jac Fitzz-enz (Purba, 2002) didasari knowledge, sehingga disebut juga knowledge economy. Lebih lanjut networked economy didefinisikan sebagai suatu kombinasi antara hubungan-hubungan ekonomi baru (new economy) dan yang ditransformasikan berdasarkan jaringan komputer dan human knowledge.

Perspektif manajemen strategi memandang bahwa ada harapan yang besar terhadap perkembangan dibidang teknologi informasi ini. Robinson (1997) mengelompokkan faktor terobosan teknologi ini ke dalam faktor lingkungan eksternal yang harus diwaspadai dan dimanfaatkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan riil, jika entitas bisnis ingin mendapatkan keunggulan bersaingnya. Hal ini mengakibatkan peramalan kemajuan teknologi memperoleh porsi yang cukup luas dalam strategi bisnis selain faktor politik, ekonomi makro serta sosial dan budaya.

Pada perkembangannnya, beberapa faktor negatif terjadi berkaitan dengan penggunaan sistem informasi oleh manusia, mengingat dalam menggunakan komputer, pengguna berhubungan dengan sesuatu yang tidak tampak yaitu bit-bit. Dibalik kecepatan, kecermatan dan keotomatisan dalam memproses pekerjaan, ternyata teknologi informasi memuat dilema-dilema etis sebagai akibat sampingan dari adanya unsur manusia sebagai pembuat, operator dan sekaligus penggunanya.

Terdapat fakta-fakta yang mengindikasikan bahwa mayoritas penjahat komputer adalah mereka yang masih muda, cerdas dan kebanyakan laki-laki (Wolk & Luddy, 1986 dalam Kazanchi, 1995). Kemampuan mereka dalam menerobos bahkan merusak sistem semakin maju seolah kejar-mengejar dengan perkembangan proteksi yang dibuat untuk melindungi sistem tersebut. Berbagai macam bentuk fraud mengiringi pemakaian sistem informasi semisal pembelian barang melalui internet dengan menggunakan kartu kredit bajakan (Anonim, Kompas, 2002).

Manusia sebagai pembuat, operator dan sekaligus pengguna sistem tersebutlah yang akhirnya menjadi faktor yang sangat menentukan kelancaran dan keamanan sistem. Hal-hal inilah yang kemudian memunculkan unsur etika sebagai faktor yang sangat penting kaitannya dengan penggunaan sistem informasi berbasis komputer, mengingat salah satu penyebab pentingnya etika adalah karena etika melingkupi wilayah-wilayah yang belum tercakup dalam wilayah hukum (Bartens, 1993). Faktor etika disini menyangkut identifikasi dan penghindaran terhadap unethical behavior dalam penggunaan sistem informasi berbasis komputer.

Identifikasi terhadap unethical behavior melibatkan unsur-unsur didalam dan diluar diri manusia sebagai atribut-atribut yang mempengaruhi perilaku manusia. Atribut-atribut karakteristik demografi manusia seperti umur, gender, tingkat kecerdasan, disamping nilai-nilai agama dan keluarga adalah unsur internal yang dimaksud. Sedangkan lingkungan sekitar seperti struktur organisasi, budaya dan situasi sekitar adalah faktor eksternal yang ikut menentukan perilaku manusia (Kazanchi, 1995).

Riset yang dilakukan Kazanchi di Amerika Serikat meneliti perbedaan gender sebagai faktor yang dianggap berpengaruh terhadap persepsi etika pada penggunaan sistem informasi. Kazanchi mengadakan penelitian terhadap 134 mahasiswa (65 laki-laki dan 69 wanita) di Universitas Mid-Western, Amerika Serikat. Kazanchi ingin meneliti apakah perbedaan gender mempengaruhi perilaku etis mahasiswa dalam penggunaan sistem informasi.

Penelitian yang dilakukan Kazanchi ini kemudian diulangi oleh Andrianto pada tahun 2003. Penelitian yang dilakukan Andrianto bukan hanya replikasi namun juga perluasan (ekstensi) dari penelitian yang dilakukan oleh Kazanchi (1995). Andrianto menambahkan unsur perbedaan jurusan studi di perguruan tinggi sebagai salah satu variabel. Selanjutnya penelitian Andrianto direplik oleh Muchammad Saleh pada tahun 2006. Penelitian yang dilakukan M. Saleh adalah replikasi dengan sudut pandang yang berbeda dari penelitian yang dilakukan oleh Andrianto (2003), yaitu perbedaan jurusan studi yang dipilih dalam penelitian. Namun pada dasarnya penelitian oleh Andrianto (2003) dan M. Saleh (2006) memiliki dasar kesamaan, yaitu sama-sama menggunakan variabel jurusan studi di perguruan tinggi. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Andrianto dan M. Saleh, faktor jurusan studi diduga juga menimbulkan perbedaan persepsi atas unethical behavior dalam sistem informasi. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah perbedaan jurusan studi di universitas menimbulkan perbedaan persepsi atas unethical behavior.

Penelitian yang akan dilakukan ini merupakan pengulangan (replikasi) dari penelitian yang telah dilakukan oleh Andrianto (2003) dan Muchamad Saleh (2006). Menurut Andrianto, perbandingan jurusan studi dapat dilakukan pada para mahasiswa akuntansi dan para mahasiswa teknik informatika pada universitas negeri yaitu universitas brawijaya. Menurut Muchamad Saleh, perbandingan jurusan studi dapat dilakukan pada para mahasiswa jurusan akuntansi dan para mahasiswa jurusan administrasi bisnis pada universitas brawijaya. Menurut peneliti, perbandingan jurusan akan lebih baik apabila dilakukan pada para mahasiswa akuntansi dan mahasiswa teknik informatika, dengan menambah sampel tidak hanya terbatas pada universitas negeri saja tetapi juga universitas swasta yang berdiri di area kota Malang. Sampai sejauh ini, peneliti belum menemukan riset sejenis dimana perbandingan jurusan akan lebih baik bila dilakukan tidak hanya pada universitas negeri saja tetapi juga universitas swasta. Atas dasar itu pula penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki keterbatasan atas penelitian sebelumnya, dimana keterbatasan pada penelitian sebelumnya (Andrianto (2003) dan M. Saleh (2006)) terletak pada sampel yang hanya terbatas pada universitas brawijaya saja.

Pemilihan variabel jurusan studi ini (Akuntansi dan Teknik Informatika) penting mengingat bahwa keduanya dalam berbagai tingkatan mempunyai posisi yang sangat menentukan terhadap perkembangan (pembuatan sekaligus pengoperasian) sistem informasi berbasis komputer. Penambahan sampel pada penelitian ini diharapkan dapat menjadi perbaikan atas keterbatasan dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Terdapat sebuah fakta baru tentang tren konvergensi peran antara profesi programmer (ahli) komputer dan akuntan untuk bidang-bidang bisnis dewasa ini. Hal inilah yang mendorong peneliti untuk meneliti faktor jurusan studi sebagai salah satu dari dua variabel dalam penelitian yang akan dilakukan, karena disadari mereka adalah calon-calon subyek profesi yang mempertaruhkan kepercayaan publik. Revolusi digitalisasi menyadarkan pentingnya transformasi nilai-nilai etika ke dalam budaya profesi sebagai penopang kepercayaan publik, sebagaimana diperkuat oleh fakta terjadinya krisis kepercayaan terhadap akuntan selama masa krisis ekonomi melanda indonesia.

Meskipun terdapat keraguan bahwa atribut individu berhubungan dengan kesadaran moral dan perilaku etik; tetapi dapat dijelaskan bahwa faktor individu dapat sangat mempengaruhi dalam penilaian standar etika individu (Kazanchi, 1995). Atribut-atribut individu ini juga bisa dilihat sebagai variabel yang menentukan tingkat standar etik individu. Hal ini membuat peneliti berpendapat bahwa dua faktor tersebut, yaitu jurusan studi dan gender (jenis kelamin), merupakan variabel yang menarik untuk diteliti dalam hubungan dengan etika dalam pemakaian sistem informasi berbasis komputer ini. Terdapat fakta-fakta yang mengindikasikan bahwa mayoritas penjahat komputer adalah mereka yang masih muda, cerdas dan kebanyakan laki-laki (Wolk & Luddy, 1986 dalam Kazanchi, 1995). Untuk itu peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul:

PERSEPSI ATAS UNETHICAL BEHAVIOR DALAM SISTEM INFORMASI : FAKTOR JURUSAN STUDI DAN GENDER  (Perbandingan antara mahasiswa Akuntansi dan Teknik Informatika)

1.2 Rumusan Masalah

  1. Apakah terdapat perbedaan tingkat pengindahan (identifikasi) terhadap unethical behavior dalam sistem informasi berbasis komputer dengan mempertimbangkan perbedaan atribut jurusan studi yang ditempuh?
  2. Apakah terdapat perbedaan tingkat pengindahan (identifikasi) terhadap unethical behavior dalam sistem informasi berbasis komputer dengan mempertimbangkan perbedaan atribut gender?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: