BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam dunia bisnis terutama pada perdagangan saham yang terdapat di pasar modal, banyak sekali aktivitas perdagangan yang dilakukan oleh para investor untuk memperoleh keuntungan (return), diantaranya adalah berupa (1) transaksi investasi dalam bentuk utang berjangka, baik jangka pendek maupun panjang, dan (2) transaksi investasi dalam bentuk penyertaan (Sunariyah, 2004). Ada berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas perdagangan di pasar modal, diantaranya adalah informasi yang masuk ke dalam pasar modal tersebut.

Informasi memegang peranan penting terhadap transaksi perdagangan di pasar modal. Para pelaku di pasar modal sangat membutuhkan informasi yang dapat mempengaruhi naik turunnya harga surat berharga. Informasi berkaitan dengan pengambilan keputusan yang dilakukan oleh para investor untuk memilih portofolio investasi yang efisien. Salah satu informasi yang ada adalah pengumuman pemecahan saham (stock split).

“Stock split adalah pemecahan jumlah lembar saham menjadi lembar yang lebih banyak dengan menggunakan nilai nominal yang lebih rendah per lembarnya secara proporsional” (Halim, 2005:97). Stock split merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh para manajer perusahaan dengan melakukan perubahan terhadap jumlah saham yang beredar dan nilai nominal per lembar saham sesuai dengan split factor.

Ewijaya dan Indriantoro (1999) menyebut stock split sebagai suatu kosmetika saham, dalam arti bahwa tindakan perusahaan tersebut merupakan upaya pemolesan saham agar lebih menarik dimata investor sekalipun tidak meningkatkan kemakmuran bagi investor, yaitu investor akan merasa seolah-olah menjadi lebih makmur karena memegang saham dalam jumlah yang lebih banyak. Jadi, pemecahan saham sebenarnya merupakan tindakan perusahaan yang tidak memiliki nilai ekonomis (Jogiyanto 2003:416). Meskipun secara teoritis pemecahan saham tidak memiliki nilai ekonomis atau tidak secara langsung mempengaruhi cash flow perusahaan, tetapi banyak terjadi peristiwa pemecahan saham di pasar modal. Hal ini mengindikasikan bahwa pemecahan saham telah menjadi suatu alat yang sangat penting dalam praktek pasar modal. Terdapat beberapa alasan dibalik pelaksanaan stock split yang menurut Martin et al. (1996) dalam Rohana et al. (2003) adalah:

  1. Supaya harga saham tidak terlalu mahal sehingga dapat meningkatkan jumlah pemegang saham dan meningkatkan likuiditas perdagangan saham.
  2. Untuk mengembalikan harga dan ukuran perdagangan rata-rata saham kepada kisaran yang telah ditargetkan.
  3. Untuk membawa informasi mengenai kesempatan investasi yang berupa peningkatan laba dan dividen kas.

Stock split yang umumnya dilakukan oleh para emiten didasari oleh tingginya harga saham suatu perusahaan, sehingga investor kurang mampu untuk melakukan pembelian dan berakibat menurunnya likuiditas dari saham. Dengan adanya kebijakan stock split akan menimbulkan dampak penurunan harga saham (yang disertai perubahan jumlah saham yang beredar secara proporsional). Penurunan harga ini diharapkan akan diikuti dengan peningkatan return saham, return yang meningkat akan menarik minat investor untuk melakukan investasi. Banyaknya investor yang ikut berpartisipasi dalam aksi jual atau beli saham akan menjadikan likuiditas suatu saham meningkat sehingga berakibat pada adanya perubahan aktivitas perdagangan pada level tertentu. Berdasarkan hal tersebut maka dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa peristiwa stock split mengandung suatu informasi sehingga pasar modal bereaksi yang ditunjukkan dengan adanya abnormal return dan trading volume activity saham. Kenaikan aktivitas perdagangan suatu saham otomatis akan berakibat terhadap kenaikan harga saham perusahaan tersebut, yang selanjutnya berpengaruh pada return pemegang saham dan akhirnya tujuan perusahaan untuk mencapai seluas-luasnya kesejahteran para pemegang saham tercapai.

Motivasi dari penelitian ini adalah bahwa selama ini penelitian tentang stock split secara umum menghasilkan dua pendapat yang berbeda. Dari hasil penelitian-penelitian tersebut ada yang menunjukkan bahwa stock split memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap beberapa variabel yang diteliti seperti harga saham, likuiditas saham, dan lain sebagainya. Namun ada juga penelitian yang menunjukkan hasil bahwa pengumuman stock split tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel yang diteliti. Hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan oleh Lakonishok dan Lev (1987), Grinblatt (1988), dan Asquith et al. (1989) dalam Rohana et al. (2003). Hasil temuan pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengumuman stock split memiliki kandungan informasi yang direaksi secara positif oleh para pelaku di pasar modal. Sementara, penelitian yang dilakukan oleh Copeland (1979) dalam Rohana et al. (2003) justru menunjukkan hasil yang berlawanan, yaitu pasar tidak melakukan reaksi terhadap pengumuman stock split.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Suntoro dan Subekti (2003) yang melakukan penelitian mengenai kandungan informasi yang ditimbulkan oleh stock split. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Suntoro dan Subekti (2003) adalah pada penggunaan periode penelitian, dimana pada penelitian Suntoro dan Subekti (2003) periode yang digunakan hanya selama tiga tahun (2000-2002) sehingga hanya diperoleh jumlah sampel yang terbatas. Untuk menutupi kelemahan tersebut maka pada penelitian ini periode diperpanjang selama lima tahun (2001-2005) yang diharapkan dengan memperpanjang periode penelitian akan diperoleh jumlah sampel yang representatif. Persamaan penelitian ini dengan penelitian Suntoro dan Subekti (2003) adalah pada variabel yang digunakan. Penelitian ini menggunakan  abnormal return dan trading volume activity sebagai variabel dependen dan peristiwa stock split sebagai variabel independen.

Dari latar belakang serta hasil penelitian terdahulu, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “REAKSI ABNORMAL RETURN DAN TRADING VOLUME ACTIVITY ATAS PERISTIWA STOCK SPLIT (Studi Empiris Pada Perusahaan Go Public Yang Terdaftar di BEJ)”

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah abnormal return dan trading volume activity bereaksi terhadap peristiwa stock split?
  2. Apakah terdapat perbedaan signifikan  abnormal return dan trading volume activity sebelum dan sesudah stock split?

Skripsi Daftar Pustaka

Skripsi Lengkap (bab 1-5 dan daftar pustaka) untuk judul diatas bisa dimiliki segera dengan mentransfer dana Rp300ribu Rp200ribu. Setelah proses pembayaran selesai skripsi dalam bentuk softcopy (Msword) langsung kita kirim lewat email kamu pada hari ini juga. Layanan informasi ini sekedar untuk referensi semata. Kami tidak mendukung plagiatisme.

Cara pesan: Ketik Judul yang dipilih dan alamat email kamu kirim ke 0817-273-509

 
atau bisa telepon langsung.

Kami akan selalu menjaga kepercayaan Anda!

Related Articles: